Pencarian

Pentas Calonarang "Aji Kekereb" Tutup Utsawa Bali Sani 2026 di Unhi Denpasar, Angkat Pesan Pemimpin Bijak

Rabu, 30 September 2026 • 09:17:31 WIB
Pentas Calonarang
Pementasan Penyalonarangan "Aji Kekereb" menutup Utsawa Bali Sani 2026 di Unhi Denpasar.

DENPASAR — Pementasan Penyalonarangan "Aji Kekereb" menjadi penutup megah Utsawa Bali Sani 2026 di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar. Lakon ini bukan Calonarang klasik, melainkan cerita carangan yang memadukan unsur-unsur esensial tradisi Calonarang ke dalam alur baru.

Koordinator Calonarang Unhi sekaligus pencipta lakon, I Komang Dedi Diana, menjelaskan perbedaan mendasar antara keduanya. Menurut dia, Penyalonarangan tidak menghadirkan tokoh Calonarang seperti dalam cerita aslinya.

"Ini adalah cerita carangan, makanya di sini dinamakan Penyalonarangan. Kalau Calonarang, dalam cerita itu ada tokoh yang memang bernama Calonarang. Sedangkan Penyalonarangan, unsur-unsur yang ada di Calonarang kita gunakan, kemudian kita buatkan alur ceritanya. Untuk lakon ini, sumber sastranya memang dari imajinasi dan inspirasi saya sendiri yang berjudul Aji Kekereb," ujar Komang Dedi.

Konflik Puri Kaleran dan Kepemimpinan Sewenang-wenang

Lakon "Aji Kekereb" mengisahkan dinamika kehidupan masyarakat Bali di wilayah Puri Kaleran. Konflik bermula ketika I Dewa Agung Badra yang memegang puncak kepemimpinan bertindak sewenang-wenang.

Ia gencar memungut upeti dari rakyat, tetapi hasil pemungutan itu tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Rakyat pun sengsara akibat kepemimpinan yang tidak berpihak kepada mereka.

Kondisi tersebut menggerakkan hati Nyi Mayang, seorang perempuan tua sederhana yang tulus membantu warga sekitar. Kebaikan dan ketulusannya membuat masyarakat beralih bakti kepadanya, perlahan meninggalkan kepemimpinan Puri Kaleran.

Pusaka Aji Kekereb dan Perlawanan Nyi Mayang

Perubahan loyalitas rakyat memicu kemarahan I Dewa Agung Badra. Ia merasa tersinggung dan disaingi, lalu mendatangi rumah Nyi Mayang dan menganiayanya sampai terkapar.

Nyi Mayang selamat dari maut. Dalam kepasrahan dan kesedihannya, ia meluapkan amarah serta aduan atas ketidakadilan yang dialaminya di Setra Gandamayu.

Betari Dewi Durga mendengar aduan tersebut, kemudian tedun dan menganugerahi Nyi Mayang pusaka sakti bernama Aji Kekereb. Pusaka itu memberi wewenang penuh kepadanya untuk menindak segala bentuk angkara murka dan ketidakadilan.

Dengan pusaka tersebut, Nyi Mayang membalaskan dendamnya hingga I Dewa Agung Badra meninggal dunia. Pertikaian berlanjut ketika sang kakak, I Dewa Agung Pemayun, memutuskan turun ke medan perang.

Pesan Asta Brata lewat Ksatria I Dewa Agung Pemayun

I Dewa Agung Pemayun digambarkan mengambil teladan ksatria Kumbakarna. Ia bertempur bukan untuk membela kesalahan adiknya, melainkan demi menjalankan kewajiban membela rakyat dan negaranya.

"Mengetahui kesaktian Aji Kekereb dari Dewi Durga tidak akan bisa ditandingi, Dewa Agung Pemayun memohon agar pertikaian disudahi. Nyi Mayang pun meminta Dewa Agung Pemayun menjadi raja yang bijak, menjalankan kepemimpinan sesuai ajaran sastra seperti Asta Brata. Cerita pun berakhir damai," tambah Komang Dedi.

Penutupan Utsawa Bali Sani 2026 lewat lakon ini tidak hanya menyajikan keindahan olah gerak tari dan estetika seni pertunjukan Bali. Pementasan tersebut juga menyampaikan pesan mendalam bagi para calon pemimpin masa depan agar senantiasa bersikap bijak dan melayani rakyatnya.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: balikonten.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks