Pencarian

King's Cross London Kini Jadi Pusat AI Global, Saingi San Francisco dan Beijing

Senin, 10 Agustus 2026 • 01:13:31 WIB
King's Cross London Kini Jadi Pusat AI Global, Saingi San Francisco dan Beijing
King's Cross, London, kini menjadi pusat pengembangan AI global yang menyaingi San Francisco dan Beijing.

BALI — Kawasan yang dulu dijuluki sebagai area paling kumuh di London ini kini menjadi rebutan perusahaan AI global. Tingkat kekosongan perkantoran konvensional di King's Cross hanya 0,9 persen, dan harga sewa premium naik 18 persen dalam tiga tahun terakhir. Fenomena ini menjadikan King's Cross satu-satunya hub AI di Eropa yang mampu menyaingi San Francisco dan Beijing.

Dari Kawasan Lampu Merah Menjadi Knowledge Quarter

Transformasi King's Cross dimulai pada 2016 ketika DeepMind—yang baru saja diakuisisi Google—memindahkan kantornya ke kawasan ini. Setelah itu, gelombang startup AI berbondong-bondong pindah untuk berada di dekat pusat riset tersebut. Kawasan ini kini dijuluki "Knowledge Quarter" karena menjadi rumah bagi OpenAI, Meta, Isomorphic Labs, Cusp AI, Wayne, Recursive, Synthesia, dan Anthropic.

Hussein Kanji, investor di Hoxton Ventures, menggambarkan perubahan drastis kawasan ini. "Pada era 1980-an, kokain dan heroin menjadikan area ini pasar narkoba utama," ujarnya. "Pada 1982, gereja lokal bahkan diduduki English Collective of Prostitutes selama 12 hari berturut-turut." Kini, kata dia, kawasan tersebut menjadi pusat AI paling bergairah di Inggris Raya.

Investor Berebut Ruang Kantor untuk Menangkan Deal

Demam AI di King's Cross mencapai level yang tidak biasa. Sebuah firma modal ventura disebut-sebut memenangkan kesepakatan investasi dengan menjanjikan ruang kantor di kawasan ini kepada pendiri startup. "Kami berhenti pada apa pun untuk memenangkan kesepakatan dan mendukung para pendiri, termasuk membantu mereka mendapatkan ruang kantor jika diperlukan," kata perwakilan firma tersebut saat dimintai konfirmasi.

Data dari Knight Frank menunjukkan sejak awal Juni, startup terkait AI telah menyewa lebih dari 1 juta kaki persegi ruang kantor di London. Chris Dunn, asosiasi wawasan komersial di firma properti itu, menyebut permintaan telah melampaui pasokan. "Kesepakatan jangka pendek bahkan dibanderol lebih mahal," katanya.

Kedaulatan AI Eropa Jadi Isu Utama

Peristiwa pada musim panas lalu menjadi wake-up call bagi ekosistem AI Eropa. Ketika Anthropic memutus akses ke Mythos dan Fable, banyak pihak mulai menyadari pentingnya kemandirian teknologi. Saul Klein, salah satu pendiri firma modal ventura Phoenix Court, mengatakan kejadian itu memicu kesimpulan: "Kita harus menjaga diri kita sendiri."

Robin Klein, rekan pendiri Phoenix Court yang berlokasi di area King's Cross, menyebut insiden tersebut sebagai "pengingat kecil namun tajam bahwa Eropa tidak bisa sekadar menyewa kemampuan AI dari pihak lain." Menurutnya, Eropa perlu membangun dan memiliki kapasitas AI-nya sendiri, dan King's Cross adalah tempat di mana pembangunan itu benar-benar terjadi.

Pendiri Startup Makin Yakin pada Ekosistem London

Simon Kohl, pendiri Latent Labs yang memiliki kantor di King's Cross dan San Francisco, mengaku kantor London-nya kini berkembang lebih cepat. "Suasananya sekarang terasa kurang seperti London mencoba mengejar ketertinggalan, dan lebih seperti London menjadi salah satu tempat utama untuk memulai perusahaan AI yang serius," katanya.

Alex Kendall, salah satu pendiri Wayve yang pindah ke King's Cross pada 2018, melihat perubahan besar dalam satu dekade terakhir. "Sepuluh tahun lalu, membangun perusahaan AI kelas dunia dari London terasa seperti pilihan yang tidak biasa. Sekarang terasa seperti pilihan yang jelas," ujarnya. Wayve sendiri merupakan salah satu kisah sukses terbesar London dengan status unicorn di bidang autonomous vehicle.

Fasilitas pendukung turut melengkapi ekosistem ini. Pendiri startup bisa naik kereta dari King's Cross ke Cambridge dalam 45 menit untuk mencari talenta, atau ke Paris dalam dua jam untuk menjalin kesepakatan bisnis. Kawasan ini juga dipenuhi tempat kuliner populer seperti Hoppers dan BAO, menjadikannya lingkungan yang hidup di luar jam kerja.

Pertanyaan besar yang kini mengemuka, menurut Robin Klein, adalah apakah Inggris mampu membangun infrastruktur, komputasi, energi, dan modal yang diperlukan untuk membuat kemandirian ini bertahan lama—atau hanya menjadi tuan rumah bagi kantor cabang laboratorium Amerika Serikat.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks