DENPASAR — Prosesi pelepasan yang berlangsung di Auditorium Redha Gunawan, UPMI Bali, itu menjadi tahapan akhir sebelum para lulusan mengikuti wisuda tingkat universitas pada 18 Agustus 2026. Dari total 67 lulusan, mayoritas berasal dari Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) dengan jumlah 37 orang. Sisanya terdiri dari 15 orang Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, 9 orang Pendidikan Seni Rupa, serta 6 orang Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.
IPK Rata-rata 3,88 dan Empat Lulusan Terbaik
Ketua panitia, Dr. Pande Putu Yogi Arista Pratama, S.Sn., M.Pd., melaporkan capaian akademik yang solid. Rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) untuk jenjang magister dan sarjana mencapai 3,88, dengan IPK tertinggi 3,96.
Predikat lulusan terbaik diraih oleh empat nama dari masing-masing prodi. Mereka adalah I Ketut Budiarta (Magister Pendidikan Bahasa Indonesia), Ni Luh Widya Antari (Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah), Magdalena Sitka Desari (Sendratasik), serta I Komang Yogi Swidarta (Pendidikan Seni Rupa).
“Jangan Jadi Sarjana Kertas”
Di tengah euforia kelulusan, Sujaya justru melontarkan pesan yang menusuk. Ia mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah meninggalkan bangku kuliah.
“Pendidikan tidak pernah diukur hanya dari selembar ijazah, tetapi dari perubahan diri yang terjadi selama proses belajar,” ucapnya di hadapan para wisudawan.
Ia mencontohkan novel ‘Kami (Bukan) Sarjana Kertas’ karya J.S. Khairen yang mengisahkan perjuangan mahasiswa melawan kegagalan dan tekanan hidup. Menurutnya, justru melalui berbagai persoalan itulah mahasiswa bertumbuh, bukan sekadar menjadi manusia tanpa cela.
Kemampuan yang Tak Dimiliki Mesin
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Sujaya menyebut dunia kini memasuki era kecerdasan buatan (AI) yang mampu menulis, menerjemahkan, hingga membuat musik dalam hitungan detik. Kondisi ini menuntut manusia memiliki kapasitas yang tidak bisa ditiru mesin.
“Ketika mesin semakin mudah menghasilkan jawaban, manusia semakin membutuhkan kemampuan untuk menentukan pertanyaan mana yang layak diajukan dan jawaban mana yang layak dipercaya,” ujarnya.
Tiga Nilai Utama FBS UPMI Bali
Berangkat dari tantangan itu, FBS UPMI Bali mengembangkan pembelajaran yang bertumpu pada tiga nilai utama: Kritis, Kreatif, dan Humanis. Sikap kritis dibutuhkan untuk memilah informasi, kreativitas untuk melahirkan gagasan baru, dan humanis memastikan teknologi tetap berpihak kepada manusia.
Komitmen ini tidak berhenti di ruang kelas. FBS juga memberi ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk menentukan bentuk tugas akhir sesuai minat dan kebutuhan dunia kerja.