MANGUPURA — Sampah dari rangkaian upacara adat dan keagamaan masih menjadi pekerjaan rumah besar di Bali. Tingginya frekuensi aktivitas spiritual masyarakat kerap meninggalkan limbah sisa upakara yang belum tertangani secara optimal.
Berangkat dari persoalan itu, Komunitas Laksana Becik yang bernaung di bawah Yayasan Laksana Becik Bali meluncurkan program Yadnya Resik. Program ini dirancang untuk mendorong pengelolaan sampah upacara secara lebih terarah, sekaligus mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Mesin Pencacah Dikerahkan untuk Olah Limbah Organik
Pelaksanaan perdana program ini berlangsung di kawasan Pura Pesimpangan Ulun Danu Beratan, Desa Sobangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kampanye Badung Bersih yang mendukung upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
DLHK Badung turun langsung mendukung program ini dengan mengerahkan satu unit mesin pencacah sampah organik. Fasilitas itu digunakan untuk mengolah limbah sisa upakara secara langsung di lokasi, sehingga proses penanganan menjadi lebih cepat dan tidak menumpuk setelah upacara usai.
Generasi Muda Jadi Garda Depan Edukasi
Dalam kegiatan perdananya, Komunitas Laksana Becik menggandeng Sekaa Teruna Girindra Putra Banjar Tegalnaringan, Desa Sobangan. Keterlibatan pemuda setempat diharapkan mampu memperluas penyebaran edukasi pengelolaan sampah hingga ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Ketua Komunitas Laksana Becik, Putu Resa Kertawedangga, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Program ini sebagai upaya untuk memperkuat komitmen masyarakat dalam hal pemilahan sampah serta kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan,” kata Putu Resa Kertawedangga di sela kegiatan.
Menurutnya, semakin tinggi partisipasi warga dalam memilah dan mengelola sampah sejak awal, peluang menjaga lingkungan tetap bersih akan semakin besar. Edukasi pemilahan sampah menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program tersebut.
Harapan untuk Gerakan Berkelanjutan
Putu Resa Kertawedangga berharap kegiatan serupa bisa terus digelar di berbagai wilayah lain di Kabupaten Badung. Pendampingan kepada masyarakat dalam menangani sampah sisa upakara dinilai sebagai langkah penting membangun kebiasaan baru menjaga kebersihan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap, ke depan bisa hadir di tengah masyarakat untuk membantu masyarakat dalam pengelolaan sampah sisa upakara,” ujarnya.
Kepala DLHK Kabupaten Badung, Rai Warastuthi, mengapresiasi lahirnya program Yadnya Resik. Ia menilai inisiatif ini bisa menjadi bagian dari solusi mengurangi persoalan sampah sisa upacara yang masih menjadi tantangan di sejumlah lokasi kegiatan keagamaan.
“Melalui kegiatan Yadnya Resik ini, kami juga mengajak masyarakat agar terus meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dengan membiasakan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya,” ucap Rai Warastuthi.
Masyarakat juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan. “Kami mengingatkan untuk kita tetap menjaga lingkungan dengan minimal mengelola sampah, memilah sampah dari sumbernya, untuk Badung yang lebih bersih dan lestari,” harapnya.
Sinergi antara pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat, dan warga diharapkan mampu menjadikan Yadnya Resik sebagai gerakan berkelanjutan. Targetnya, budaya pengelolaan sampah yang lebih baik bisa terbentuk, khususnya terhadap limbah hasil pelaksanaan upacara adat dan keagamaan di Kabupaten Badung.