BALI — Menurut laporan terbaru dari The Information, raksasa teknologi asal Cupertino itu telah berdiskusi dengan para bankir dan menghubungi sejumlah startup chip untuk mengukur minat mereka dalam proses akuisisi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Apple membangun server AI yang lebih mumpuni secara internal, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
Mengapa Apple Butuh Chip AI yang Lebih Kencang?
Masalah utama ada pada performa server AI internal Apple yang saat ini mengandalkan chip M2 Ultra rancangan mereka sendiri. Untuk tugas-tugas AI yang paling berat, Apple ternyata masih menyewa GPU Nvidia di Google Cloud. Sistem ini digunakan untuk menjalankan model AI berbasis Gemini yang menggerakkan asisten Siri versi terbaru.
Kondisi ini membuat Apple berusaha mengejar ketertinggalan. Rencana peluncuran chip server generasi berikutnya dengan nama kode Baltra dikabarkan molor dari jadwal awal yang ditargetkan pada 2026. Keterlambatan inilah yang mendorong Apple untuk mencari solusi lewat akuisisi eksternal.
Strategi Akuisisi yang Berubah
Membeli perusahaan besar bukanlah hal yang biasa bagi Apple. Selama ini, perusahaan besutan Tim Cook lebih sering mengakuisisi startup kecil untuk teknologi spesifik. Namun, beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan pola pikir.
Pada 2014, Apple menggelontorkan dana USD 3 miliar untuk mengakuisisi Beats. Lima tahun kemudian, mereka membayar USD 1 miliar untuk sebagian besar bisnis modem smartphone milik Intel. Yang terbaru, Apple baru saja mengakuisisi startup AI asal Israel bernama Q.ai dengan nilai dilaporkan mencapai USD 2 miliar.
Teknologi AI untuk iPhone Juga Jadi Target
Selain fokus pada server, Apple juga dikabarkan tertarik pada teknologi yang bisa membuat AI berjalan langsung di perangkat pengguna. The Information melaporkan bahwa Apple telah melakukan pembicaraan dengan PrismML, sebuah startup yang mengembangkan teknologi untuk mengecilkan model AI berukuran besar agar bisa dijalankan langsung di iPhone.
Meski belum ada angka pasti mengenai potensi nilai akuisisi atau kesepakatan, langkah ini menunjukkan bahwa Apple serius mengintegrasikan AI ke dalam ekosistemnya, baik di cloud maupun di perangkat keras pengguna.
Dampak pada Strategi Keuangan Apple
Perubahan strategi akuisisi ini juga didukung oleh perubahan kebijakan keuangan internal. CFO Apple yang baru, Kevan Parekh, baru-baru ini menyatakan bahwa perusahaan tidak lagi menjadikan posisi kas bersih netral sebagai target formal. Banyak analis menilai langkah ini memberi Apple fleksibilitas lebih besar untuk melakukan akuisisi bernilai besar di masa depan.
Bagi pengguna di Indonesia, langkah Apple ini patut dicermati. Jika berhasil, pengembangan chip AI sendiri bisa berarti peningkatan performa Siri, pemrosesan foto yang lebih cepat, dan fitur AI canggih lainnya yang berjalan langsung di iPhone tanpa harus bergantung pada koneksi internet.