DENPASAR — Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menyatakan pihaknya terus bersinergi dengan TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Bali untuk menjaga stabilitas harga. Langkah stabilisasi dilakukan melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan termasuk kerja sama antardaerah.
"Kami bersama TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Bali terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga," kata Achris di Denpasar, Selasa.
Optimisme Konsumen Bertumpu pada Kelompok Pengeluaran Rp6-7 Juta
Hasil survei BI menunjukkan mayoritas optimisme IKK, atau 21 persen, berasal dari masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp6-7 juta per bulan. Disusul kelompok pengeluaran Rp5-6 juta sebanyak 11 persen, dan sekitar 9 persen dari masyarakat dengan pengeluaran Rp2-3 juta per bulan.
Optimisme juga tercermin pada pekerja di sektor informal dengan indeks 124,7, lebih tinggi dibandingkan sektor formal yang mencatat 119,3.
Geopolitik Timur Tengah Picu Perlambatan IKK
Meski masih optimis, perlambatan IKK pada Mei 2026 dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 120,7 pada April 2026 menjadi 117,5. Penurunan IKE bersumber dari seluruh komponen utama dibandingkan enam bulan lalu, yaitu konsumsi barang tahan lama, ketersediaan lapangan kerja, serta penghasilan saat ini.
Achris mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu. Situasi itu mendorong kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan perlambatan kunjungan wisatawan ke Bali.
BI Rate 5,75 Persen Diharapkan Topang Stabilitas
Untuk menopang upaya stabilisasi harga, Bank Indonesia telah menyesuaikan suku bunga acuan BI rate sebesar 5,75 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung pengendalian inflasi di tengah tekanan eksternal yang meningkat.