BALI — Musim panas 2016 menjadi titik balik bagi tenis Inggris. Dalam satu akhir pekan di All England Club, lima trofi Wimbledon jatuh ke tangan pemain tuan rumah — rekor yang belum pernah tercipta sebelumnya. Sepuluh tahun kemudian, momen itu masih dikenang sebagai "golden weekend" yang melahirkan generasi baru petenis Inggris.
Dari Lapangan Kecil ke Pusat Perhatian
Tiga jam sebelum final tunggal putra dimulai, Court 17 yang hanya berkapasitas 276 kursi penuh sesak. Penonton berjejer di tribun atas lapangan sebelah hanya untuk menyaksikan final tunggal kursi roda pertama dalam sejarah Wimbledon.
Gordon Reid, yang sehari sebelumnya sudah merebut gelar ganda kursi roda bersama Alfie Hewett, mengalahkan juara Paralimpiade asal Swedia Stefan Olsson 6-1, 6-4. "Ada energi positif dan kegembiraan luar biasa di sekitar pemain Inggris akhir pekan itu," kenang Reid, yang kini mengoleksi 24 gelar Grand Slam bersama Hewett.
Perayaan Reid nyaris terganggu. Malam sebelumnya ia harus pindah hotel karena pesta tetangga kamar yang bising. Namun setelah kemenangan, sampanye justru mengguyurnya saat ia berjalan menuju pusat media.
Murray di Puncak, Hamilton di Silverstone
Saat Jordanne Whiley memenangkan ganda putri kursi roda bersama Yui Kamiji, Murray baru memulai finalnya. Lawannya, Milos Raonic, bukanlah Roger Federer atau Novak Djokovic — dua nama yang selama ini menghadang langkahnya. Federer tersingkir di semifinal, Djokovic kalah di ronde ketiga, Nadal absen karena cedera.
Murray tidak menyia-nyiakan peluang. Ia hanya kehilangan dua set sepanjang turnamen dan menang straight set 6-4, 7-6 (7-3), 7-6 (7-2). Momen yang ia ingat justru teknis: "Saya melakukan approach shot forehand ke backhand Raonic dan dia gagal mengembalikan." Bukan air mata haru yang ia sembunyikan di handuk, atau trofi yang ia peluk erat hingga ke ice bath.
Bersamaan dengan kemenangan Murray, Lewis Hamilton baru saja memenangi Grand Prix Inggris di Silverstone. "Tidak ada keraguan akhir pekan fantastis ini akan menjadi lebih baik," tulis media Inggris saat itu.
Trofi, Politik, dan Cedera yang Mengubah Segalanya
Di atas panggung, pelatih Murray Ivan Lendl — yang biasanya tanpa ekspresi — meneteskan air mata. Sue Barker membuka wawancara dengan "Feel good?" Jawaban Murray: "Er, yeah." Sebuah understatement yang menjadi legenda.
Murray secara tak sengaja menyebut Perdana Menteri David Cameron di Royal Box. Penonton mencemooh Cameron yang baru saja mengumumkan mundur pasca-Brexit. Murray sigap: "Menjadi Perdana Menteri itu sulit, saya tidak mau pekerjaan itu." Tepuk tangan kembali bergemuruh.
Beberapa pekan kemudian, Murray menjadi juara Olimpiade ganda pertama dalam sejarah dan mengakhiri tahun sebagai nomor satu dunia. Tapi tahun 2017 cedera pinggang mulai menghantuinya. Operasi besar membuatnya tak pernah lagi menambah koleksi gelar Grand Slam — meski ia sempat berkata bahwa tenis terbaiknya masih di depan.
Warisan untuk Generasi Berikutnya
Sepuluh tahun kemudian, Murray kembali ke Wimbledon — bukan sebagai pemain, melainkan di kotak pelatih mendampingi Jack Draper. Draper adalah salah satu dari sekian banyak petenis Inggris yang mengaku terinspirasi oleh akhir pekan emas 2016.
Lima trofi dalam tiga hari. Satu akhir pekan yang mengubah tenis Inggris — dan belum terulang lagi hingga kini.