DENPASAR — Panggung Terbuka Ardha Candra di Art Center Denpasar menjadi saksi penampilan Duta Kabupaten Badung bersama Duta Gianyar pada ajang Utsawa Gong Kebyar Anak-anak, Jumat (26/6) malam. Ribuan pasang mata tak henti bertepuk tangan menyaksikan tiga garapan yang dibawakan Sanggar Tari dan Tabuh Rajapala dari Banjar Basangkasa, Kelurahan Seminyak, Kecamatan Kuta.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa beserta istri, Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti, dan Sekda Badung Ida Bagus Surya Suamba turut hadir menyaksikan pementasan yang berlangsung meriah itu.
Tabuh Kreasi Pepanggulan "Bayung Bidak": Simbol Perjalanan Jiwa
Salah satu sajian yang menyedot perhatian adalah Tabuh Kreasi Pepanggulan berjudul "Bayung Bidak". Konseptor sekaligus penggarap Sanggar Rajapala, I Made Ariawan, menjelaskan bahwa garapan ini terinspirasi dari miniatur jukung sebagai simbol perjalanan manusia mengarungi samudra kehidupan.
"Bayung berarti penyeimbang dan bidak atau layar sebagai penentu arah menjadi dua poros utama, keseimbangan batin dan arah spiritual yang menuntun perjalanan sejak mula," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (27/6).
Menurutnya, komposisi tabuh tersebut menggambarkan perjalanan jiwa dari keheningan menuju dinamika kehidupan yang penuh tantangan. "Di tengah riuhnya perjalanan, bayung menjaga agar tidak goyah, sementara bidak mengarahkan menuju tujuan yang selaras dengan Dharma," tegasnya.
Tari Kreasi Adnyaswari: Warisan 1998 yang Kembali Hidup
Selain tabuh, Duta Badung juga membawakan Tari Kreasi Adnyaswari, sebuah tari penyambutan yang menampilkan karakter putri halus melalui gerak tangan dan permainan sampur. Tarian ini melambangkan penghormatan kepada tamu sekaligus menggambarkan ketulusan dalam menyambut kehadiran mereka.
Made Ariawan mengungkapkan bahwa Tari Adnyaswari pertama kali dipentaskan pada Pesta Seni tahun 1998 oleh Sekeha Gong Dharma Putra Banjar Guming, Penarungan, Mengwi. Tarian tersebut merupakan karya Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, S.ST., M.Sn., dengan iringan yang ditata almarhum I Wayan Sinti, MA.
Tari Dolanan "Jong Jang Sir": Filosofi Perahu Kecil untuk Anak
Sajian ketiga adalah Tari Dolanan "Jong Jang Sir" yang mengangkat filosofi jukung kecil yang digunakan dalam upacara Ngangkid, yakni ritual penyucian bagi anak berusia tiga bulan. "Perahu atau jukung kecil yang sering digunakan sebagai sarana dalam upacara Ngangkid. Ngangkid merupakan sebuah upacara untuk anak yang sudah berusia tigang sasih (tiga bulan)," kata Made Ariawan.
Melalui karya tersebut, perjalanan jukung dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup manusia yang harus dipersiapkan sejak dini agar tetap berada di jalan yang benar. "Begitulah kehidupan yang harus kita persiapkan. Perahu kecil ini akan senantiasa berlayar demi menggapai sebuah tujuan," tegasnya.
Proses penggarapan ketiga karya ini dimulai sejak Maret 2026. Made Ariawan berharap pesan yang dihadirkan dapat diterima oleh masyarakat sekaligus memperkuat makna tema PKB tahun ini, Atma Kerthi, yang dimaknai bukan hanya sebagai perjalanan menuju kematian, melainkan bagaimana manusia menjaga kesucian jiwa sejak usia dini. "Walaupun banyak rintangan dan penghalang, seorang anak tidak sampai mengambil jalan pintas berupa ulah pati," pungkasnya.