BADUNG — Pementasan Janger Tradisi Remaja yang digelar Sanggar Seni Murti Kanti Swara Banjar Tegeh, Kerobokan, menjadi salah satu daya tarik dalam ajang Duta PKB Badung 2026. Lakon “Bima Swarga” yang diangkat dalam pertunjukan ini sarat akan nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi generasi muda.
Mengapa Lakon “Bima Swarga” Dipilih?
Lakon “Bima Swarga” dikenal sebagai kisah epik yang menggambarkan perjalanan Bima, seorang tokoh wayang, yang rela melakukan apa pun demi menyelamatkan ibunya. Dalam tradisi pewayangan, cerita ini menjadi simbol bakti seorang anak kepada orang tua yang tidak mengenal batas.
Pesan moral itulah yang ingin ditekankan oleh para pegiat sanggar kepada penonton, terutama kalangan remaja. Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai seperti penghormatan terhadap leluhur dan keseimbangan antara keyakinan serta kewajiban manusia dinilai penting untuk terus diingatkan.
Proses Kreatif: dari Latihan Rutin hingga Panggung
Para penari remaja di sanggar ini menjalani latihan intensif selama beberapa pekan sebelum pementasan. Mereka tidak hanya belajar gerak tari, tetapi juga mendalami filosofi di balik setiap adegan dalam lakon “Bima Swarga”.
Proses kreatif ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai budaya tradisional Bali. Sanggar Seni Murti Kanti Swara sendiri telah lama dikenal sebagai wadah pelestarian seni Janger di kawasan Kerobokan.
Janger Tradisi Remaja: Media Pendidikan Karakter
Janger bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan media pendidikan karakter yang efektif. Melalui gerak tari, dialog, dan musik tradisional, pesan moral seperti bakti kepada orang tua dapat disampaikan secara lebih mengena di hati penonton.
Pementasan ini juga menjadi ajang bagi para remaja untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka di bidang seni. Duta PKB Badung 2026 diharapkan mampu menjadi duta yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat dan mencintai budaya lokal.
Apa Dampaknya bagi Generasi Muda Bali?
Dengan adanya pementasan seperti ini, regenerasi seniman tradisi di Bali terus berjalan. Anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif yang melestarikan warisan leluhur.
Ke depan, diharapkan lebih banyak sanggar dan komunitas seni yang mengangkat cerita-cerita tradisional dengan pesan moral yang relevan. Hal ini menjadi langkah konkret menjaga identitas budaya Bali di tengah gempuran budaya global.