DENPASAR — Sebanyak 3.000 bibit mangrove ditanam secara serentak di Mangrove Arboretum Park, Denpasar, Rabu (18/12), melibatkan 1.000 personel TNI/Polri dan pegiat lingkungan. Kegiatan ini menjadi bagian dari program prioritas Kementerian Lingkungan Hidup yang memusatkan perhatian pada restorasi pesisir.
“Kami akan intensif melakukan penanaman mangrove ini di berbagai wilayah, sekarang di Bali,” ucap Menteri Jumhur di sela-sela kegiatan.
Bencana Hidrometeorologi Jadi Alarm
Menteri Jumhur menyebut bahwa kondisi lingkungan saat ini berbeda drastis dengan 20 hingga 50 tahun lalu. Gangguan akibat kerusakan alam, menurutnya, kini bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Ketidaksopanan kita kepada lingkungan itu sudah mulai menuai hasil. Kita di Sumatera tiba-tiba ada banjir bandang, dan itu 80 persen bencana hidrometeorologi, bencana karena kita memperlakukan alam,” ujarnya.
Penanaman mangrove tidak hanya menjadi solusi ekologis, tetapi juga simbol perlawanan terhadap kerusakan yang sudah akut. Menteri Jumhur menegaskan bahwa Bali dipilih karena dinilai berhasil dalam pengelolaan lingkungan, termasuk penanganan sampah perkotaan yang hampir tuntas.
Bali Jadi Etalase Restorasi Lingkungan Nasional
Pemilihan Bali sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan. Menteri Jumhur melihat Pulau Dewata telah menunjukkan keberhasilan dalam mengelola sampah hingga nyaris tidak ada limbah yang tak tertangani di kota. Ia hanya meminta pemerintah daerah memastikan distribusi hasil olahan sampah—baik berupa bahan bakar maupun pupuk—berjalan optimal.
“Tanggal 28 Juli saya datang lagi ke sini bersama teman-teman dari serikat pekerja untuk menanam mangrove. Kami akan pusatkan dalam rangka Hari Mangrove Internasional di Bali. Mungkin kita ajak beberapa menteri untuk sama-sama menggelorakan kembali lingkungan dan mangrove,” kata Jumhur.
Pemprov Bali Jadikan Mangrove Prioritas Hadapi Iklim
Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik langkah tersebut. Ia menyampaikan bahwa penanaman mangrove merupakan program prioritas Pemprov Bali dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus memenuhi target tutupan kawasan hutan sesuai aturan kementerian.
“Yang kami harapkan agar alam ini semakin lestari dan membuat kehidupan kita menjadi lebih sehat. Oleh karena itu, kami secara periodik melaksanakan setiap bulan sekali penanaman pohon, termasuk mangrove di seluruh wilayah Bali dalam rangka memenuhi minimum 30 persen luasan kawasan hutan itu,” tuturnya.
Menteri Jumhur meyakini bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan berdampak langsung pada sektor pariwisata Bali. “Saat ini masyarakat dunia simpatik terhadap daerah yang menghargai lingkungan. Pariwisata Bali akan semakin maju,” pungkasnya.