MANGUPURA — Udara dingin yang menusuk hingga membuat tubuh gemetar dirasakan warga saat beraktivitas di luar rumah pada Jumat (29/5) pagi. Nyoman Sarjana, seorang agen koran di Denpasar, mengaku kedinginan saat menempuh perjalanan dari Gianyar menuju Kota Denpasar. Tangannya terasa bergetar dan tubuhnya kurang nyaman jika terlalu lama berada di luar ruangan.
“Ya, hari ini saya rasakan sangat dingin. Tangan sampai merasa bergetar. Saya menempuh perjalanan dari Gianyar ke Kota Denpasar, dinginnya luar biasa sampai membuat tubuh gemetar,” ujarnya.
Setibanya di Denpasar, Nyoman memilih berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk menghangatkan tubuh. Ia menilai sinar matahari pagi membantu tubuh kembali segar. “Makanya saya ingin menjemur diri pagi ini supaya kembali sehat dan mendapatkan sinar matahari,” kata pria yang juga agen koran ini.
Penyebab Suhu Dingin: Posisi Matahari dan Angin dari Australia
Diana Hikmah menjelaskan, fenomena ini dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari dan aktifnya Monsun Australia. Saat ini, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), menyebabkan defisit penyinaran matahari untuk wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Bali.
Selain itu, Benua Australia tengah memasuki musim dingin dengan tekanan udara relatif tinggi. Kondisi ini memicu pergerakan massa udara dingin dari Australia menuju Indonesia, melewati Bali dan sekitarnya. “Langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan akan mengakibatkan panas radiasi matahari langsung dilepas ke atmosfer, sehingga udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari,” jelas Diana.
Suhu Terendah Tercatat di Jembrana, Wilayah Dataran Tinggi Lebih Dingin
Penurunan suhu udara sudah terpantau secara perlahan sejak akhir Mei. Suhu terendah tercatat semalam sebesar 20 derajat Celcius di Jembrana, sementara Denpasar dan Kuta mencapai 22 derajat Celcius. Wilayah dataran tinggi atau pegunungan biasanya merasakan suhu lebih dingin, namun pengamatan BMKG saat ini belum mencakup area tersebut.
“Fenomena suhu dingin ini merupakan fenomena yang normal terjadi berulang setiap tahunnya, terutama pada periode bulan Juni, Juli, Agustus,” tegas Diana. Suhu dingin pada malam hari diprediksi masih berlangsung hingga Agustus mendatang.
Imbauan untuk Nelayan dan Wisatawan: Waspada Gelombang Tinggi
BMKG juga mengingatkan adanya potensi tinggi gelombang laut mencapai 2,5 meter di sepanjang perairan selatan Bali. Masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku pariwisata, diminta menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, serta menggunakan pakaian hangat pada malam hari.
Diana menambahkan, fenomena suhu dingin ini juga dirasakan di wilayah selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. “Perbandingan suhu udara saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya masih memiliki trend yang sama, akan tetapi suhu semalam bisa dikatakan cukup dingin karena berada di bawah nilai suhu rata-rata bulanan,” pungkasnya.