DENPASAR — Lonjakan pengiriman paket dari Bali tidak hanya didorong oleh belanja oleh-oleh khas, tetapi juga kebutuhan wisatawan untuk mengirimkan barang bawaan pribadi yang melebihi kapasitas bagasi pesawat. Peluang ini mulai dilirik oleh sejumlah pemilik jasa titip (jastip) dan ekspedisi kecil yang mengaku omzetnya naik hingga 30 persen dalam tiga bulan terakhir.
Bukan Sekadar Oleh-Oleh Khas Bali
Data dari asosiasi jasa pengiriman di Bali menunjukkan, volume tertinggi terjadi pada periode libur panjang dan akhir tahun. Barang yang paling sering dikirim meliputi pakaian, peralatan elektronik, hingga perabotan rumah tangga yang dibeli wisatawan selama tinggal di Pulau Dewata.
“Kami terima rata-rata 200 paket per hari dari kawasan Kuta dan Seminyak. Sebagian besar adalah barang bawaan yang tidak muat di koper,” ujar pemilik salah satu agen ekspedisi di Denpasar, Made Suardana. Ia menambahkan, tarif pengiriman ke Jakarta dan Surabaya menjadi rute paling diminati.
Apa yang Mendorong Lonjakan Ini?
Beberapa faktor mendorong tren ini. Pertama, kebijakan maskapai yang memperketat aturan bagasi kabin dan bagasi terdaftar. Kedua, maraknya akomodasi jangka pendek seperti villa dan apartemen yang memungkinkan wisatawan tinggal lebih lama dan berbelanja lebih banyak. Ketiga, kemudahan akses layanan jemput paket dari penginapan.
Pelaku UMKM di sektor fesyen dan kerajinan lokal pun ikut merasakan dampaknya. Mereka mulai bermitra dengan jasa ekspedisi untuk menawarkan layanan kirim langsung dari toko ke alamat rumah pembeli di luar Bali.
Strategi Jitu untuk Pemain Baru
Bagi warga Bali atau pendatang yang ingin mencoba peruntungan di bisnis ini, kuncinya ada pada kecepatan dan kepercayaan. Sistem tracking real-time dan kemasan yang aman menjadi syarat mutlak. Selain itu, menjalin kerja sama dengan pemilik hotel, villa, dan pengelola pasar seni bisa menjadi langkah awal efektif.
“Modal utamanya bukan besar, tapi konsistensi. Mulai dari lingkungan terdekat dulu, antar-jemput langsung, baru naik kelas jadi agen resmi,” kata Made. Ia mencontohkan, biaya kirim rata-rata untuk paket 5 kilogram ke Pulau Jawa berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, dengan margin keuntungan bersih sekitar 20 persen per paket.
Bagaimana Prospek ke Depan?
Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan tengah mendorong digitalisasi UMKM agar dapat mengintegrasikan layanan logistik secara langsung. Program ini diharapkan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah.
Dengan rata-rata kunjungan wisatawan mencapai 500 ribu orang per bulan, potensi pengiriman paket dari Bali masih jauh dari kata jenuh. Pelaku usaha yang sigap membaca peluang ini diprediksi akan menjadi pemain utama dalam rantai logistik pariwisata di kawasan Indonesia timur.