BADUNG — Mahasiswa Program Aplikasi Manajemen Pengelolaan Perhotelan (PPH) Angkatan 2022 Politeknik Pariwisata Bali turun ke Desa Tegaljadi untuk mendorong digitalisasi UMKM berbasis budaya lokal. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan pelaku usaha kecil di desa yang selama ini kesulitan mengelola pemasaran secara digital.
Apa Saja yang Diajarkan ke Pelaku UMKM?
Dalam pendampingan yang berlangsung beberapa pekan terakhir, mahasiswa memberikan pelatihan teknis mulai dari pengelolaan produk hingga strategi pemasaran digital. Fokus utamanya adalah pemanfaatan media sosial, marketplace, dan website sebagai kanal penjualan.
Satu hal yang membedakan program ini dari pelatihan serupa adalah pengenalan sistem pengelolaan aset digital berbasis cloud. Pelaku UMKM diajarkan cara menyimpan, mengelola, dan mengakses data produk mereka secara daring agar lebih efisien dan aman.
Mengapa Cloud Jadi Kunci UMKM Naik Kelas?
Selama ini, banyak pelaku UMKM di desa masih mengandalkan pencatatan manual atau penyimpanan data di perangkat pribadi. Risiko kehilangan data akibat kerusakan perangkat atau serangan siber cukup tinggi.
Dengan sistem cloud, para pelaku usaha bisa mengakses data kapan saja dari mana saja. Ini menjadi bekal penting ketika mereka mulai memperluas jangkauan pemasaran ke luar Bali atau bahkan ke pasar ekspor.
Produk Lokal Tetap Jadi Andalan
Meski fokus pada digitalisasi, program ini tetap menekankan penguatan produk berbasis budaya lokal. Para mahasiswa membantu UMKM mengemas cerita di balik produk mereka—mulai dari bahan baku tradisional hingga proses pembuatan yang diwariskan turun-temurun.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak memaksa pelaku UMKM meninggalkan identitas lokal mereka. Justru, nilai budaya menjadi daya tarik utama di pasar digital yang semakin ramai.
Langkah Selanjutnya: Pemasaran Lintas Platform
Ke depan, mahasiswa akan mendampingi UMKM untuk mengoptimalkan akun marketplace dan media sosial mereka. Targetnya, setiap produk memiliki kanal penjualan daring yang aktif dan terkelola dengan baik dalam tiga bulan ke depan.
Program ini diharapkan menjadi model pendampingan yang bisa direplikasi di desa-desa lain di Bali. Dengan sinergi antara pendidikan tinggi dan komunitas lokal, digitalisasi UMKM bukan lagi sekadar wacana.