BALI — Perseteruan verbal antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan PDIP kembali memanas. Kali ini, Ketua DPP PSI Bestari Barus menanggapi keras tudingan politisi PDIP, Deddy Yevri Sitorus, yang menyebut PSI tengah gencar merekrut atau ‘membajak’ kader dari partai lain, termasuk NasDem, Demokrat, dan PAN.
Bestari menilai pernyataan Deddy tidak berdasar. “Wah, campur aduk itu, kepanikan, ketakutan, segala macam gitu loh,” kata Bestari melalui sambungan telepon, Senin (15/6). Ia justru menyarankan PDIP untuk lebih fokus pada agenda politik yang substantif, seperti mengajak Ketua Umum Megawati Sukarnoputri melakukan safari politik menyapa rakyat.
“Daripada ngomongin PSI, ngomongin Pak Jokowi yang katanya udah dilupakan, bagaimana sih PDIP ini,” ujar Bestari menyentil.
Bestari juga membantah keras narasi yang menyebut dirinya ‘dibajak’ saat pindah dari Partai NasDem ke PSI. Ia mengklaim proses perpindahannya dilakukan secara terbuka dan etis. “Nah jadi apa yang disampaikan Deddy ya terkait saya aja udah enggak bener, apalagi yang lainnya,” tegas dia.
Menurut Bestari, sebelum bergabung dengan PSI, ia telah ‘sowan’ atau menemui Presiden Joko Widodo dan berpamitan langsung dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh. “Sudah lah Deddy urusin rakyat, dan jadi DPR kerja bener gitu loh, saya kira itu. Jangan panik berkepanjangan,” imbuhnya.
Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus menyatakan partainya terus mengawasi pergerakan PSI. Ia mengklaim upaya perekrutan itu tidak hanya menyasar kader PDIP, tetapi juga kader NasDem, Demokrat, dan PAN. “Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain,” kata Deddy saat dihubungi, Senin (15/6).
Deddy menambahkan, gejala perekrutan ini sudah terlihat di sejumlah basis partai. “Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN. Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan,” ujar dia.
Pertarungan retorika antara dua partai ini diprediksi akan terus berlanjut menjelang kontestasi politik nasional ke depan. PSI yang tengah berupaya memperkuat posisi politiknya, sementara PDIP yang merupakan partai penguasa, tampak waspada terhadap gerakan politik di luar lingkar kekuasaan.