DENPASAR — Penurunan harga Ethereum dalam beberapa pekan terakhir memicu aksi jual besar-besaran dari investor besar. Seorang investor whale tercatat menjual ETH senilai 188 juta dolar AS saat harga di level 2.040 dolar AS per koin. Ia kemudian membeli kembali aset yang sama saat harga telah turun 23% lebih murah setelah pasar mengalami kehancuran.
Kondisi ini diperparah oleh melemahnya minat institusional terhadap aset kripto nomor dua tersebut. Arus dana keluar dari ETF Ethereum spot di Amerika Serikat mencapai 845 juta dolar AS hanya dalam satu bulan terakhir. Angka itu menjadi sinyal bahwa investor besar masih enggan masuk ke pasar.
Analis memperingatkan penurunan metrik profitabilitas ini merupakan indikator klasik fase capitulasi, di mana investor yang bertahan paling lama mulai kehilangan harapan. Level 11% pasokan dalam posisi 3x untung adalah yang terendah sejak siklus bear market 2017 silam.
Bagi investor kripto di Indonesia, kondisi ini membuka peluang sekaligus risiko tinggi. Aksi beli dari whale setelah crash menunjukkan harga diskon 23% dianggap sebagai titik masuk yang menarik. Namun, arus keluar dana institusional yang masih deras menandakan tekanan jual belum sepenuhnya berakhir.
Pasar kripto, termasuk Ethereum, masih sangat bergantung pada sentimen global dan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Belum ada kepastian kapan tren penurunan ini akan berbalik arah. Para pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan harga di level support psikologis terdekat.