TABANAN — Kepala Tata Usaha Puskeswan II Tabanan, Wayan Gunarta, memimpin langsung 12 petugas yang diterjunkan ke lima banjar dinas di Desa Kesiut. Warga membawa hewan peliharaan masing-masing ke titik layanan yang telah disiapkan, mulai pagi hingga siang.
Puskeswan II Tabanan mencatat 161 ekor hewan berhasil divaksinasi dalam kegiatan tersebut. Rinciannya, 134 ekor anjing dan 27 ekor kucing.
Sebaran Vaksinasi di Lima Banjar Dinas Kesiut
Penyebaran hewan yang divaksin tidak merata di lima banjar. Banjar Dinas Kesiut Kelod menjadi lokasi dengan jumlah terbanyak, disusul Kesiut Kaja dan Kesiut Kawan Kelod.
- Banjar Dinas Kesiut Kangin: 26 ekor
- Banjar Dinas Kesiut Kawan Kelod: 31 ekor
- Banjar Dinas Kesiut Kawan Kaja: 20 ekor
- Banjar Dinas Kesiut Kelod: 50 ekor
- Banjar Dinas Kesiut Kaja: 34 ekor
Babinsa Imbau Warga Bertanggung Jawab atas Kesehatan Hewan Peliharaan
Babinsa Desa Kesiut, Pelda I Komang Widiarsana, mendampingi jalannya vaksinasi. Pendampingan itu disebut sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah melindungi masyarakat dari ancaman rabies.
"Kami juga mengimbau warga agar bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan peliharaan, termasuk memastikan anjing dan kucing mendapatkan vaksinasi sesuai program yang dilaksanakan petugas," ujarnya.
Selain petugas Puskeswan II Tabanan, kegiatan ini melibatkan para kepala wilayah (kawil) se-Desa Kesiut. Kehadiran aparat kewilayahan membantu memobilisasi warga agar membawa hewan peliharaan ke titik vaksinasi.
Mengapa Vaksinasi Rabies Digelar Serentak
Rabies masih menjadi ancaman kesehatan di Bali, termasuk di wilayah pedesaan yang banyak memelihara anjing dan kucing. Vaksinasi massal menjadi salah satu cara menekan risiko penularan ke manusia.
Partisipasi warga dinilai menjadi kunci keberhasilan pengendalian rabies di tingkat desa. Tanpa kesadaran pemilik hewan, program vaksinasi tidak akan mencapai cakupan yang memadai.
Dinas Peternakan melalui Puskeswan II Tabanan berharap kesadaran masyarakat terhadap pencegahan rabies meningkat setelah kegiatan di Desa Kesiut. Kolaborasi warga, petugas kesehatan hewan, dan aparat kewilayahan disebut sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan lingkungan desa.