DENPASAR — Air lindi yang dihasilkan dari penumpukan sampah organik bercampur sampah kimia di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) disebut telah merusak vegetasi hutan mangrove dan membunuh keanekaragaman hayati di kawasan pesisir Bali. Temuan itu disampaikan pakar lingkungan sekaligus akademisi Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., dalam forum Dialog Kenegaraan DPD RI di Denpasar, Jumat (25/9/2026).
Menurut Kartini, cairan lindi beracun terbentuk ketika sampah organik terurai bersama limbah kimia di TPA. Dampaknya tidak berhenti di tanah sekitar penimbunan, tetapi merembet ke ekosistem pesisir yang menjadi penopang hidup warga Bali.
Apa Itu Air Lindi dan Mengapa Berbahaya bagi Mangrove Bali
Air lindi adalah cairan yang muncul dari proses pembusukan sampah di TPA. Ketika sampah organik tercampur limbah kimia, cairan itu membawa residu beracun yang meresap ke tanah dan aliran air.
Kartini menyebut mangrove di pesisir Bali menjadi korban paling langsung. Vegetasi yang biasanya menahan abrasi dan menjadi rumah biota laut itu mati, sementara keanekaragaman hayati di sekitarnya ikut tergerus.
Bakar Plastik Lepas Dioksin hingga Radius 5 Kilometer
Kebiasaan warga membakar sampah plastik menambah beban pencemaran. Menurut Kartini, pembakaran plastik melepaskan zat dioksin yang bisa menyebar hingga radius 5 kilometer dari titik pembakaran.
Paparan dioksin dalam jangka panjang disebut memicu berbagai penyakit kronis. Zat ini tidak hanya mencemari udara, tetapi juga mengendap di tanah dan air sebelum masuk ke tubuh manusia melalui makanan.
Mikroplastik Sudah Masuk Rantai Makanan dan ASI
Kartini mengungkapkan bahwa residu bahan kimia dan mikroplastik telah menembus rantai makanan. Bahkan, riset dunia mencatat Air Susu Ibu (ASI) hingga kandungan darah manusia sudah terpapar residu kimia dan mikroplastik.
"Riset menunjukkan bahwa residu bahan kimia dan mikroplastik sudah masuk ke dalam rantai makanan kita. Bahkan riset dunia mencatat Air Susu Ibu (ASI) hingga kandungan darah manusia telah terpapar residu kimia dan mikroplastik. Kita sedang membunuh diri kita sendiri secara perlahan jika tidak mengubah perilaku ini," kata Kartini.
Desakan Kurikulum Lingkungan dari SD hingga Perguruan Tinggi
Sebagai solusi jangka panjang, Kartini mendesak pemerintah memasukkan pendidikan lingkungan hidup secara resmi ke dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, langkah itu perlu dimulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Tujuannya membentuk karakter dan moral kebersihan generasi mendatang. Tanpa perubahan perilaku sejak dini, persoalan sampah dan pencemaran akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Desakan itu muncul di forum Dialog Kenegaraan DPD RI, yang mempertemukan akademisi dengan pemangku kebijakan. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun kementerian terkait soal usulan kurikulum lingkungan tersebut.