Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memproyeksikan indeks ekspektasi penjualan (IEP) di Pulau Dewata mencapai 198 hingga akhir 2026, naik dari survei sebelumnya yang berada di level 190. Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menyatakan optimisme pelaku usaha tetap terjaga seiring menguatnya aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga.
DENPASAR — Keyakinan pengusaha di Bali terhadap prospek bisnis hingga penghujung tahun depan tercatat menguat. Berdasarkan survei terbaru Bank Indonesia, indeks ekspektasi penjualan diproyeksikan berada di level optimis, sejalan dengan kinerja penjualan ritel yang tumbuh membaik hingga Desember 2026.
“Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sesuai indeks ekspektasi penjualan yang berada di level optimis yaitu di atas 100,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Sabtu.
Kinerja Semester I Tumbuh di Level Optimis
Menguatnya optimisme tersebut tidak lepas dari kinerja yang solid pada paruh pertama tahun ini. Indeks penjualan riil (IPR) Bali per Juni 2026 tercatat sebesar 126,4 dan masih berada di zona optimis.
Angka ini meningkat, terutama didorong oleh penjualan pada kategori barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman dan tembakau, serta barang lainnya.
“Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya perekonomian Bali,” ujar Achris.
Pariwisata dan Kredit Jadi Motor Penggerak
BI Bali menilai aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat menjadi penopang utama keyakinan pelaku usaha. Hal ini turut didukung oleh pertumbuhan kredit lapangan usaha perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47 persen.
Penguatan konsumsi masyarakat terlihat jelas selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun.
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75 Persen
Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, bank sentral telah mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75 persen. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Bersamaan dengan itu, BI juga menahan suku bunga deposit facility di level 4,75 persen dan suku bunga lending facility di angka 6,50 persen.