BALI — Menyiapkan generasi unggul di tahun 2045 bukan sekadar wacana besar. Intervensi paling krusial justru dimulai dari hal yang dekat dengan keseharian ibu: memastikan asupan gizi selama kehamilan dan memberikan perlindungan penuh untuk anak. Hal ini menjadi sorotan utama dalam forum sosialisasi dan edukasi publik di Gedung Rumah Kita, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Sabtu (8/8/2026).
27,7 Persen Ibu Hamil Alami Anemia, Ini Risikonya
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ryan Herardi, Sp.PD, Subsp. GEH (K), membuka data yang perlu diwaspadai para ibu. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai 27,7 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan pintu masuk menuju komplikasi serius.
“Kesehatan seorang anak itu terukir sejak ia berada dalam kandungan. Masa kehamilan 270 hari ditambah pemantauan intensif hingga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) merupakan periode emas yang tidak boleh diabaikan,” jelas dr. Ryan.
Anemia yang tidak tertangani membuat ibu hamil mudah lelah dan lemah. Dampak lanjutannya jauh lebih berbahaya: memicu kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Investasi Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Lantas, apa yang harus dipersiapkan? dr. Ryan menekankan bahwa pemenuhan nutrisi makro dan mikro hukumnya wajib. Tablet tambah darah, asam folat, kalsium, hingga yodium bukan sekadar suplemen pelengkap.
“Edukasi gizi harus diubah. Makanan untuk ibu hamil bukan sekadar memanjakan rasa, melainkan harus dipastikan kecukupan nilai gizinya,” tegasnya.
Pemeriksaan rutin kondisi hipertensi dan diabetes di fasilitas kesehatan dasar juga menjadi langkah preventif yang tidak boleh dilewatkan. Investasi kesehatan hari ini adalah tabungan jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Sekolah Rakyat dan Perlindungan Anak sebagai Fondasi Bangsa
Di sisi lain, Anggota Komisi VIII DPR RI, Ir. Endro Hermono, MBA, mengingatkan bahwa anak-anak hari ini adalah pilar kepemimpinan bangsa pada abad ke-100 kemerdekaan Indonesia. Perlindungan yang komprehensif menjadi ikhtiar krusial.
“Perlindungan yang komprehensif kepada anak-anak kita merupakan ikhtiar krusial untuk menyiapkan mental dan fisik mereka dalam menghadapi kompetisi global pada tahun 2045 mendatang,” ujar Endro.
Legislator asal Blitar ini juga menyoroti disparitas pendidikan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu secara ekonomi kerap tertinggal aksesnya. Solusi konkret yang disuarakan adalah optimalisasi program Sekolah Rakyat.
“Program pendidikan yang inklusif seperti Sekolah Rakyat dirancang agar anak-anak dari seluruh lapisan memiliki keberanian, kecerdasan, serta kapasitas intelektual yang setara untuk bersaing secara sehat,” tambahnya.
Peran Aktif Ibu Menentukan Masa Depan Anak
Forum ini menegaskan bahwa ibu memegang peran sentral yang tidak tergantikan. Perlindungan anak tidak hanya soal hukum atau fisik, tetapi juga jaminan tumbuh kembang optimal sejak dalam kandungan.
Pemenuhan gizi seimbang selama 1.000 HPK adalah kunci utama. Jangan ragu untuk rutin memeriksakan kehamilan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Masa depan Indonesia Emas 2045 sesungguhnya dimulai dari rahim para ibu yang sehat dan anak-anak yang terlindungi. (fak/serayu)