Cadangan Devisa RI Turun Tipis Jadi US$ 146,3 Miliar per Akhir September 2026

Penulis: Haris Maulana  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:51:31 WIB
Cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.

BALI — Posisi cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 146,3 miliar atau sekitar Rp 2.617 triliun pada akhir September 2026, turun tipis dari US$ 146,5 miliar sebulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebut penurunan ini dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan posisi cadangan devisa tersebut masih relatif stabil dibandingkan akhir Agustus 2026. Menurutnya, perubahan posisi cadev dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah kewajiban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh BI juga menjadi faktor yang menggerus posisi cadev. Langkah itu diambil sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Rasio Cadev Masih di Atas Standar Internasional

Denny menegaskan posisi cadangan devisa hingga akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Jika dihitung bersama pembayaran utang luar negeri pemerintah, rasio itu setara 5,2 bulan impor.

Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya dipatok sekitar 3 bulan impor. Dengan posisi itu, BI menilai cadev masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS," kata Denny dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/10/2026).

Pemicu Utama Penurunan: Bayar Utang dan Jaga Rupiah

Ada dua faktor yang paling menekan posisi cadev bulan lalu. Pertama, pemerintah menarik pinjaman luar negeri dan membayar utang yang jatuh tempo dalam periode yang sama. Kedua, BI menggelontorkan dana untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Penerimaan pajak dan jasa menjadi penopang yang menahan penurunan cadev agar tidak lebih dalam. Tanpa masuknya dua pos penerimaan itu, penyusutan cadev berpotensi lebih besar.

  • Posisi cadev akhir September 2026: US$ 146,3 miliar (sekitar Rp 2.617 triliun)
  • Posisi cadev akhir Agustus 2026: US$ 146,5 miliar (sekitar Rp 2.618 triliun)
  • Selisih penurunan: US$ 200 juta
  • Rasio kecukupan impor: 5,3 bulan
  • Rasio impor plus bayar utang luar negeri: 5,2 bulan
  • Standar kecukupan internasional: sekitar 3 bulan impor

Respons BI terhadap Ketidakpastian Global

Stabilisasi rupiah menjadi prioritas BI di tengah gejolak pasar keuangan global. Intervensi di pasar valas untuk menahan pelemahan rupiah otomatis menguras cadangan devisa, sehingga penurunan tipis US$ 200 juta dinilai masih terkendali.

Bagi investor obligasi dan pelaku pasar valas, level cadev di atas US$ 146 miliar menjadi sinyal bahwa BI punya amunisi memadai untuk meredam volatilitas rupiah. Posisi ini juga menopang kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia membayar kewajiban eksternal tepat waktu.

Proyeksi BI ke Depan

Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik ke depan. Keyakinan itu bertumpu pada posisi cadev yang memadai serta aliran masuk modal asing yang berlanjut.

Menurut Denny, persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik menjadi penopang arus modal masuk. Kombinasi keduanya diharapkan menjaga cadev tetap di level aman meski tekanan global belum mereda.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," pungkasnya.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top