BALI — Kabar kurang menyenangkan datang bagi konsumen India yang membidik ponsel kelas menengah hingga flagship. Vivo sub-brand iQOO dan Xiaomi melalui Redmi resmi menaikkan harga jual empat model ponsel yang baru saja diluncurkan. Langkah ini merupakan imbas langsung dari melambungnya biaya produksi chip memori RAM yang tengah melanda industri.
Kenaikan harga ini tidak merata di semua model. Berikut rincian perubahan yang terjadi di pasar India:
Biasanya harga ponsel cenderung turun beberapa bulan setelah peluncuran. Namun, kondisi industri saat ini berbeda. Kenaikan ini dipicu oleh krisis pasokan RAM yang berkepanjangan, membuat biaya komponen memori melonjak drastis.
Kenaikan hingga Rs 13.000 (sekitar Rp 2,5 juta dengan estimasi kurs Rp 193 per Rs) untuk seri flagship menunjukkan betapa besar tekanan biaya yang ditanggung produsen. Keputusan ini pun diambil hanya dalam hitungan pekan setelah perangkat resmi dijual, sebuah langkah yang jarang terjadi di pasar ponsel.
Bagi konsumen di India yang sudah membeli unit lebih awal, keputusan ini jelas menguntungkan karena mereka mendapat harga lebih murah. Sebaliknya, calon pembeli baru harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan perangkat yang sama.
Langkah iQOO dan Redmi ini bisa menjadi sinyal bagi produsen lain untuk melakukan hal serupa. Jika biaya produksi RAM terus meningkat, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak penyesuaian harga di berbagai merek, terutama untuk ponsel dengan konfigurasi RAM besar yang menjadi primadona saat ini.
Belum ada informasi resmi apakah kebijakan harga baru ini akan berdampak pada pasar Indonesia. Namun, pengguna di Tanah Air patut mewaspadai potensi kenaikan serupa jika krisis pasokan RAM belum mereda dalam beberapa bulan ke depan.