BALI — Kyle Walker ke Burnley, Rio Ferdinand ke Queens Park Rangers—meme slideshow tentang bintang Euro 2020 yang meredup di klub-klub kecil sudah jadi lelucon umum. Namun musim panas ini, skenario itu terasa berbeda. Mohamed Salah memilih Trabzonpor, Leroy Sane bergabung dengan Galatasaray di usia 29 tahun, dan Dusan Vlahovic kini berseragam Besiktas.
Fenomena ini bukan sekadar pelarian pemain yang kehabisan tenaga. Ada pergeseran peta kekuatan yang lebih dalam: Liga Super Turki kini dianggap lebih menjanjikan ketimbang liga kaya minyak Arab Saudi.
Dari Liga Pensiun ke Panggung Eropa
Saudi Pro League sempat jadi primadona saat Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan N'Golo Kante berbondong-bondong pindah ke Teluk. Namun musim panas ini, marquee signing mereka hanya Crysensio Summerville—pemain bagus, tapi jauh dari level superstar. Sementara itu, Galatasaray dikaitkan dengan wonderkids Ethan Nwaneri dan Rodrigo Mora.
Kritik soal gelembung yang pecah di Saudi memang terdengar simplistis. Investasi Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) memang mulai ditarik dari berbagai proyek olahraga global, termasuk LIV Golf. Namun yang lebih penting, Turki menawarkan sesuatu yang tak bisa dibeli uang: tradisi dan atmosfer sepak bola yang sudah mengakar.
Warisan dan Identitas yang Tak Bisa Ditiru
Turki bukan membangun liga dari nol. Mereka punya rivalitas Galatasaray-Fenerbahce yang legendaris, Besiktas yang konsisten di papan atas, serta Trabzonspor dan Basaksehir yang siap mengejutkan. Suporter Turki dikenal fanatik—tifo, flare, dan asap tebal yang menyelimuti stadion adalah pemandangan biasa.
Bermain bagus di Liga Super Turki membuat pemain diperlakukan layaknya dewa. Ini daya tarik yang tak dimiliki Saudi yang masih membangun basis penggemar.
Jalur ke Kompetisi Eropa Jadi Magnet Utama
Alasan paling konkret: akses ke kompetisi Eropa. Galatasaray berada di Pot 3 Liga Champions, Fenerbahce bersaing di babak kualifikasi melawan Lyon. Sementara Trabzonspor dan Besiktas bermain di kualifikasi Liga Europa, dan Basaksehir di Conference League—yang finalnya digelar di Istanbul tahun depan.
Kemenangan Galatasaray atas Liverpool musim lalu menjadi bukti bahwa tim Turki bisa bersaing. Dengan hanya delapan dari 36 tim yang tersingkir di fase liga Champions, peluang melaju ke fase gugur semakin terbuka lebar.
Sejak Galatasaray menjuarai Piala UEFA 2000, mimpi itu tak pernah padam. Kini dengan skuad berisi Sane, Osimhen, dan Singo, bukan tidak mungkin Turki kembali punya wakil di papan atas Eropa.
Liga memang bukan gelembung yang meletus, melainkan balon yang mengembang dan mengempis seiring datangnya talenta. Premier League pun suatu hari akan menghadapi pertanyaan serupa. Untuk saat ini, Turki sedang berada di fase mengembang—dan menjadi pilihan rasional bagi pemain yang masih punya ambisi besar.