BALI — Kondisi yang memberatkan, menurut Prabowo, justru menjadi fondasi terbentuknya seorang pemimpin. Ia meragukan apakah generasi muda saat ini memiliki ketahanan yang cukup atau justru cepat mengeluh dan bergantung pada bantuan orang lain.
"Apakah generasi-generasi penerus kita sekarang ini nanti kuat menghadapi persaingan antarbangsa yang semakin keras, atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?" kata Prabowo dalam sambutannya.
Kepala Negara menilai orang yang terbiasa hidup tanpa hambatan akan sulit berkembang menjadi pemimpin tangguh. Ia menekankan proses pembentukan karakter tidak bisa berlangsung instan.
"Kepemimpinan tidak bisa diberi sebagai hadiah. Kepemimpinan itu didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang," ujarnya.
Prabowo juga mengaitkan kecerdasan dengan pengalaman hidup. Menurutnya, kemampuan membaca situasi tidak semata-mata lahir dari bangku pendidikan formal, tetapi juga dari proses menghadapi berbagai kesulitan.
"Kecerdasan itu menurut saya juga karena ditempa oleh kesulitan," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menjadikan perjalanan hidup Bahlil sebagai contoh konkret. Menteri ESDM tersebut tumbuh dari keluarga sederhana di Papua dan sempat bekerja sebagai kondektur angkot saat masih duduk di bangku sekolah.
Pengalaman itu dinilai Prabowo sebagai bagian dari proses pembentukan karakter yang tidak diperoleh dari pendidikan formal semata. Hidup yang penuh rintangan, menurutnya, mengasah naluri dan kemampuan adaptasi seseorang.
Meski menekankan pentingnya ketangguhan, Prabowo mengingatkan bahwa keberanian saja tidak cukup. Seorang pemimpin harus memiliki nilai kebaikan, kebajikan, dan empati agar tidak menjadi ancaman bagi orang-orang yang dipimpinnya.
"Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa regenerasi kepemimpinan nasional tidak hanya menuntut mental baja, tetapi juga integritas moral. Kombinasi keduanya, menurut Prabowo, menjadi syarat mutlak agar Indonesia mampu bersaing di panggung global tanpa kehilangan arah.