DENPASAR — Perayaan Galungan tahun ini terasa berbeda bagi Ratih, ibu rumah tangga di Kota Denpasar. Ia merogoh kocek lebih dari Rp2 juta untuk membeli buah, daging, dan bunga. “Yang naik semuanya, dari bunga, buah, daging, dan bahan lainnya,” katanya saat berbelanja di kios perlengkapan upacara.
Kenaikan harga keperluan upacara dibandingkan tahun lalu dirasakan merata. Kadek dan Made Ardini, dua ibu rumah tangga lainnya, menyebut kenaikannya sekitar 10 persen. Meski terlihat kecil, dampaknya cukup terasa karena menyangkut banyak komoditas sekaligus.
Data Sistem Informasi Harga Pangan Utama (Sigapura) Provinsi Bali menunjukkan lonjakan paling tajam pada bawang putih. Per 16 Juni 2026, harga bawang putih di pasar tradisional mencapai Rp40.094 per kilogram, naik dari Rp31.490 per kilogram pada 1 Juni 2026. Kenaikannya lebih dari 27 persen hanya dalam setengah bulan.
Komoditas lain seperti cabai rawit merah naik hampir 6 persen menjadi Rp78.982 per kilogram. Sementara itu, bawang merah naik 11,95 persen menjadi Rp45.526 per kilogram pada periode yang sama.
Lonjakan harga bawang putih erat kaitannya dengan kondisi ekonomi global. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lebih dari 90 persen kebutuhan nasional bawang putih dipenuhi melalui impor, terutama dari Tiongkok. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sudah terjadi sejak awal 2026 membuat harga barang impor ikut meroket. Nilai tukar dolar AS sempat mencapai Rp18.190 pada 8 Juni 2026.
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi juga naik pada 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON92) melonjak hampir Rp4.000. Penelitian Tambunan Nurma dkk. (2022) menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM berdampak langsung pada biaya produksi di sektor industri. Pada akhirnya, hal itu mendorong harga kebutuhan sandang, pangan, dan papan ikut naik.
Menghadapi tekanan ekonomi ini, Made Ardini memilih melakukan penyesuaian. Ia mengurangi penggunaan buah impor karena harganya yang mahal. Satu-satunya buah impor yang ia beli adalah anggur seharga Rp90.000 per kilogram. “Berkurang dari tahun lalu, soalnya nggak bikin sate, lawar, sama nggak pakai buah impor. Penjor beberapa bahan nyari sendiri deket rumah,” terangnya.
Sementara itu, Kadek justru menghabiskan lebih banyak dibanding Galungan tahun-tahun sebelumnya, mencapai Rp5 juta. “Di beberapa bahan ada kenaikan, seperti bumbu-bumbu, daging babi masih sama, bunga ada kenaikan sedikit,” ungkapnya.
Kenaikan harga juga dirasakan para pedagang. Made Rai, pedagang canang di Kabupaten Badung, mengatakan harga canang ceper besar ia jual Rp35.000 per bungkus berisi 25 canang. Kenaikan bahan baku memaksanya menyesuaikan harga jual.
Perbedaan pengeluaran Galungan di setiap rumah tangga dipengaruhi oleh daya beli dan banyaknya keperluan yang dibeli. Namun, satu hal yang sama: kantong makin tipis di balik sarana upacara yang dihaturkan.