RI Incar Posisi Raja Energi Masa Depan, ESDM: Cadangan Mineral Kritis Kita Melimpah

Penulis: Ivan Setiawan  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 14:05:31 WIB
Indonesia optimis mengoptimalkan cadangan mineral kritis untuk masa depan energi nasional.

BALI — Permintaan global terhadap mineral kritis—mencakup litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements—diproyeksikan terus meningkat hingga 2040. Lonjakan ini didorong oleh pesatnya perkembangan kendaraan listrik, industri baterai, energi terbarukan, dan pembangunan jaringan listrik modern.

Menurut Cecep, dinamika global saat ini semakin mempertegas pergeseran peta energi dunia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas, hambatan rantai pasok akibat kompetisi antarnegara, hingga tekanan perubahan iklim menjadi empat faktor utama yang mengubah lanskap tersebut.

"Seluruh dinamika tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan kebijakan swasembada energi dan hilirisasi, khususnya untuk mineral, sebagai fondasi kemandirian bangsa," ujar Cecep dalam diskusi bertajuk "Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia" di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).

Hilirisasi Jadi Kunci agar RI Tak Sekadar Jadi Pemasok Bahan Baku

Indonesia memiliki cadangan mineral strategis yang melimpah. Namun, Cecep mengingatkan bahwa potensi ini hanya akan menjadi peluang jika diikuti dengan pengelolaan yang tepat. Negara harus memperkuat hilirisasi, sektor manufaktur, dan penguasaan teknologi agar sumber daya alam memberikan nilai tambah ekonomi yang maksimal.

"Dalam situasi seperti ini, ketahanan energi Indonesia tidak lagi hanya berbicara mengenai ketersediaan energi, tetapi juga kemampuan suatu negara mengendalikan sumber daya strategis yang menjadi fondasi teknologi masa depan," tegasnya.

Menurutnya, mineral kritis akan menjadi salah satu faktor utama penentu daya saing ekonomi dunia pada masa mendatang. Batu bara, di sisi lain, masih memegang peran penting dalam bauran energi global meskipun pertumbuhannya mulai melandai seiring perkembangan energi baru dan terbarukan.

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan potensi litium yang mulai tergarap, Indonesia berada di posisi strategis. Tantangan ke depan adalah memastikan hilirisasi berjalan berkelanjutan agar kedaulatan energi yang disebutkan Cecep benar-benar terwujud—bukan sekadar menjadi pemasok bahan mentah bagi pabrik baterai negara lain.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top