BALI — Setelah lebih dari satu dekade pengembangan, Snap resmi memperkenalkan Specs—kacamata pintar AR konsumen pertamanya—dalam acara spatial AI convention di Long Beach, Selasa lalu. Perangkat ini sudah bisa dipesan mulai 16 Juni dengan deposit refundable USD 200, dan akan mulai dikirimkan pada musim gugur tahun ini ke Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Belum ada informasi ketersediaan untuk pasar Indonesia.
Berbeda dengan kompetitor yang masih mengandalkan tether atau puck eksternal, Snap merancang Specs sebagai perangkat mandiri. Semua komputasi ada di bodi kacamata yang memang terlihat sedikit lebih tebal dari kacamata biasa. Meski begitu, Snap mengklaim versi terbaru ini sudah lebih ramping dan efisien dibanding prototipe yang sempat dicoba di CES awal tahun ini.
Bobot Specs memang lebih berat dari Meta Ray-Ban generasi pertama yang di bawah 30 gram, tapi masih jauh lebih ringan dari Apple Vision Pro yang mencapai 748-800 gram. Snap menawarkan dua opsi ukuran bingkai: 47 mm dan 52 mm, dengan selisih bobot hanya 4 gram.
Salah satu fitur yang menonjol adalah contextual AI. Pengguna bisa melihat suatu objek, lalu bertanya langsung ke kacamata—dan Specs akan menampilkan informasi tentang apa yang sedang dilihat. Fitur ini menjadi medan pertempuran utama di kategori perangkat AR saat ini, diikuti oleh Meta dan Google yang juga mengembangkan kemampuan serupa.
Snap juga memperkenalkan fitur bernama EyeConnect. Dua pengguna Specs bisa memulai sesi game multiplayer hanya dengan saling menatap mata. Selain bermain game, kacamata ini juga bisa digunakan untuk menonton video, merekam footage sudut pandang pertama, dan mengakses aplikasi produktivitas seperti email dan browsing web.
Dengan harga USD 2.195 (sekitar Rp 36,2 juta), Specs jelas bukan perangkat untuk pasar massal. Snap secara terbuka menyebut target awal mereka adalah tech enthusiast, developer, dan studio—bukan konsumen biasa. Bandingkan dengan Meta Ray-Ban yang bisa dibeli mulai USD 350, atau Apple Vision Pro yang USD 3.500.
Harga tinggi ini mencerminkan dilema industri smart glasses saat ini: minat konsumen masih sebatas rasa penasaran, belum berubah menjadi kebiasaan beli yang bisa menghasilkan profit konsisten. Bahkan Meta pun disebut masih merugi besar di divisi pengembangan AR-nya.
Snap memasuki pasar yang kini dipimpin Meta lewat seri Ray-Ban yang populer, sementara Google baru saja mengumumkan lini kacamata bertenaga AI terbarunya. Snap sendiri belum konsisten mencetak profit—perusahaan bahkan melakukan PHK pada April lalu dan mencatat penurunan engagement pengguna di Amerika Utara.
Apakah Specs akan menjadi titik balik bagi Snap? Jawabannya masih tergantung pada adopsi developer dan apakah pengalaman AR yang ditawarkan cukup meyakinkan untuk membuat orang mengeluarkan Rp 36 juta. Setidaknya, setelah satu dekade menunggu, produk ini akhirnya benar-benar ada di tangan konsumen—meski hanya segelintir yang sanggup membelinya.