Harga Minyak Dunia Turun, Anggota DPR Minta Pemerintah Segera Evaluasi BBM Nonsubsidi

Penulis: Feri Andika  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 21:12:32 WIB
Harga minyak dunia turun signifikan, Brent berada di USD81,73 per barel.

BALI — Harga minyak mentah dunia kembali tertekan signifikan. Pada perdagangan Selasa (16/6/2026), minyak mentah Brent tercatat ambles 1,7 persen ke posisi USD81,73 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,9 persen ke level USD79,20 per barel. Level ini menjadi yang terendah sejak 10 Maret 2026.

Kesepakatan Damai AS-Iran Buka Jalan Pasokan Selat Hormuz

Penurunan harga ini dipicu oleh kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik, meskipun detail perjanjian belum sepenuhnya dirilis. Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kelancaran arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz kembali menguat.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG). Sebelum konflik memanas, harga minyak Brent bertengger di kisaran USD70 per barel. Ketegangan di Timur Tengah sempat mendongkrak harga hingga mendekati USD120 per barel. Kini, dengan meredanya tensi geopolitik, tekanan harga justru berbalik arah.

DPR: Saatnya Rakyat Merasakan Manfaat Penurunan Harga

Menanggapi kondisi ini, Mufti Anam menyoroti inkonsistensi yang kerap dirasakan konsumen. “Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan,” tegas Mufti dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Menurut politikus tersebut, harga BBM nonsubsidi memiliki efek domino yang luas. Kenaikan harga BBM selalu berdampak langsung pada tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, dan pada akhirnya daya beli masyarakat. “Karena itu pemerintah dan Pertamina harus segera mengevaluasi harga BBM secara transparan. Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda,” ujarnya.

Tekanan Inflasi dan Daya Beli Jadi Taruhannya

Desakan evaluasi ini bukan tanpa alasan. Fluktuasi harga energi di Indonesia sangat sensitif terhadap konsumsi rumah tangga. Setiap perubahan harga BBM nonsubsidi langsung tercermin pada indeks harga konsumen, terutama di sektor transportasi dan pangan. Dengan tren penurunan harga minyak global yang mulai terlihat, publik menanti respons cepat dari pemerintah untuk meredam potensi inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi.

Pertamina pun kini berada di bawah sorotan. Keputusan untuk menyesuaikan harga jual BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo akan menjadi indikator utama apakah mekanisme pasar benar-benar berjalan dua arah—naik saat harga minyak dunia tinggi, dan turun saat harga minyak dunia rendah.

Reporter: Feri Andika
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top