DENPASAR — Menerjemahkan tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para seniman. Sejak era Gubernur I Wayan Koster, tema-tema festival dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna dan merujuk pada visi Sad Kerthi. Pada 2026, tema yang diusung adalah “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”, sebuah konsep abstrak tentang penyucian jiwa yang paripurna.
Namun, tantangan itu berhasil dipecahkan oleh ISI Bali lewat sendratari kolosal “Lubdhaka Lelana”. Pertunjukan yang digelar pada malam pembukaan PKB ke-48 ini mengisahkan perjalanan atma seorang pemburu malang yang tidak sengaja memuja Dewa Siwa di malam Siwaratri.
Dikisahkan, Lubdhaka seharian tidak mendapat hasil buruan dan terjebak malam di tengah hutan. Demi menyelamatkan diri, ia bertengger di dahan pohon bila (maja). Untuk mengusir kantuk, ia memetik daun satu per satu dan menjatuhkannya ke kolam di bawah, tempat berdirinya lingga-yoni sebagai simbol Dewa Siwa.
Tanpa disadari, tindakan sederhana itu justru menjadi bentuk pemujaan. Ia tidak tahu bahwa malam itu bertepatan dengan Tilem, hari suci yang dimuliakan sebagai malam Siwa (Siwaratri). Meskipun sepanjang hidupnya dikenal sebagai pemburu yang membunuh banyak hewan, Lubdhaka memperoleh surga berkat ketulusan bhakti yang tanpa pamrih.
Akurasi cerita ini dalam menafsirkan tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” dinilai sangat tinggi. Kisah transformasi spiritual dan penyucian jiwa ini tidak hanya relevan dengan tema PKB, tetapi juga menghadirkan pesan moral yang kuat bagi kehidupan masa kini. Pertunjukan didukung tata pentas megah, koreografi kolosal yang inovatif, serta tata cahaya memukau yang memikat penonton dari awal hingga akhir.
Di sela-sela kisah spiritual, terselip pula kritik sosial ringan dan jenaka. Mulai dari harga Pertamax yang melambung hingga praktik spekulasi tanah di tengah pesatnya pariwisata Bali. “Lubdhaka Lelana” hadir bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi sosial yang sarat makna.
Menurut Frederik deBoer dalam tulisannya “Two Modern Balinese Theatre Genres: Sendratari and Drama Gong” yang dimuat dalam buku Being Modern in Bali (1996), sendratari lahir dari upaya kreatif seniman Bali untuk memadukan tari, drama, musik, dan narasi dalam format yang ringkas. Berbeda dengan drama gong yang para pemainnya berdialog langsung, dalam sendratari dialog disampaikan oleh dalang.
Pada masa awal perkembangannya, lakon Ramayana dan Jayaprana sangat populer. Belakangan, kisah Mayadenawa juga sering diangkat. Bentuk pertunjukan sendratari bisa disusun relatif singkat, sekitar satu jam, berbeda dengan drama gong yang bisa berlangsung tiga hingga empat jam.
Momentum penting perkembangan sendratari terjadi ketika Bali mulai menyelenggarakan PKB pada 1979. Malam pembukaan hampir selalu diisi oleh garapan ASTI (kini ISI Bali) atau KOKAR (kini SMKN 3 Sukawati). Cerita yang diangkat umumnya mengambil episode dari epos Ramayana dan Mahabharata. DeBoer mencatat bahwa kekuatan genre ini terletak pada kelenturannya dalam mengadaptasi berbagai kisah menjadi pertunjukan yang komunikatif bagi penonton modern.