DENPASAR — Tim Informasi dan Komunikasi BBPOM di Denpasar, Ni Putu Ekayani, mengatakan uji sampel dilakukan secara acak terhadap produk yang berpotensi mengandung zat berbahaya. "Kami sudah uji, kalau pangan yang aman itu adalah pangan yang bebas dari tiga bahaya, bahaya kimianya kami uji hari ini ternyata astungkara semua aman dari bahaya kimia," kata Ekayani di Denpasar, Minggu.
Sebanyak 19 sampel produk diuji langsung oleh petugas BBPOM di lokasi PKB. Produk yang diuji antara lain sate ikan laut, pepes, bakso, kerupuk, es mutiara, dan terasi.
Ekayani menjelaskan, pemilihan sampel disesuaikan dengan potensi kandungan berbahaya. Misalnya, es mutiara yang berwarna merah mencolok dicurigai mengandung rhodamin B, sementara tahu dan mie diuji karena kerap dicampur formalin oleh pedagang nakal di luar Bali.
Dua jenis jajanan yang paling dicurigai justru menunjukkan hasil negatif. "Jajan laklak itu juga biasanya berisi bahan bahaya kalau orang nakal di luar Bali ya sebab di Bali ini tidak pernah ketemu," ujar Ekayani.
Terasi, yang kerap dicurigai karena warnanya mencolok dan banyak beredar tanpa izin edar BPOM, juga dinyatakan aman. "Terasi ini riskan ditambahkan pewarna tekstil rhodamin b, kalau beli rujak agak cerah merona begitu warnanya kemungkinan ada campuran tapi belum tentu juga, terbukti tadi tidak mengandung bahaya bisa jadi merahnya dari udang," katanya.
Meski aman dari bahan kimia, Ekayani mengingatkan pelaku usaha untuk menjaga kebersihan dari bahaya biologi dan fisik. Bahaya biologi berupa pencemaran mikroba, menurutnya, sudah diantisipasi sebagian pedagang dengan menutup produk agar tidak dihinggapi lalat.
Namun, masih banyak pedagang yang mengabaikan penggunaan celemek dan masker saat memasak. "Padahal alat kelengkapan itu penting untuk memastikan produk tidak terkontaminasi," tegas Ekayani.
Untuk bahaya fisik, BBPOM meminta panitia PKB rutin mengecek kondisi makanan yang dijual setiap hari. Langkah ini untuk memastikan tidak ada makanan rusak atau kedaluwarsa yang masih diperjualbelikan.