PADANG — Pelemahan rupiah yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir membuat pelaku pasar dan akademisi mulai menghitung ulang nilai wajar mata uang Garuda. Berdasarkan analisis Purchasing Power Parity (PPP), nilai tukar keseimbangan rupiah saat ini diperkirakan berada di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per dolar AS.
Angka itu diperoleh dari asumsi inflasi Indonesia rata-rata 3–4 persen per tahun dan inflasi AS 2–3 persen per tahun sejak kurs berada di level Rp 12.000 pada 2014. Setelah ditambah premi risiko Indonesia yang diperkirakan Rp 1.000–Rp 1.500 per dolar AS, nilai wajar rupiah saat ini berada di rentang Rp 16.500 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
“Dengan asumsi tersebut, kurs yang mendekati Rp 18.000 mulai menunjukkan adanya indikasi bahwa pasar telah bergerak di atas nilai fundamental yang dapat dijelaskan oleh faktor ekonomi jangka panjang,” tulis ekonom Universitas Andalas dalam analisisnya.
Dari sisi global, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan. Ketidakpastian geopolitik, konflik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi global, serta suku bunga tinggi di AS mendorong investor melakukan flight to quality—beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, aliran modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, pasar mencermati beberapa faktor risiko: meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap neraca pembayaran, dan perubahan kebijakan ekonomi yang dinilai meningkatkan ketidakpastian. Pelemahan ekspor akibat perlambatan ekonomi global juga mengurangi pasokan devisa yang masuk.
“Pelemahan rupiah saat ini bukan hanya disebabkan oleh penguatan dolar AS, tetapi juga mencerminkan penyesuaian terhadap berbagai risiko yang sedang diperhitungkan oleh pasar,” demikian catatan dalam analisis tersebut.
Konsep exchange rate overshooting yang diperkenalkan ekonom Rudiger Dornbusch menjelaskan bahwa pasar keuangan sering bereaksi berlebihan terhadap perubahan ekspektasi. Ketika investor khawatir terhadap suatu risiko, mereka cenderung menjual aset secara serentak—mendorong nilai tukar melampaui level fundamentalnya.
Fase inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai momentum potensial terjadinya pembalikan arah. Meski prediksi nilai tukar tetap sulit, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa ketika pelemahan telah melampaui kondisi yang bisa dijelaskan fundamental, peluang koreksi mulai terbuka.
“Nilai tukar merupakan salah satu variabel ekonomi yang paling sulit diprediksi. Bahkan para ekonom peraih Nobel sekalipun tidak bisa memprediksi pergerakan kurs secara akurat,” tulis analisis tersebut mengingatkan.
Hingga berita ini diturunkan, pasar masih mencermati data inflasi AS terbaru dan kebijakan suku bunga The Fed sebagai penentu arah rupiah selanjutnya. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan fundamental domestik dan global sebelum mengambil posisi.