Pencarian

Video Mindfulness Maudy Ayunda Viral, Netizen Soroti Privilege dan Minta Maaf

Senin, 14 September 2026 • 19:21:01 WIB
Video Mindfulness Maudy Ayunda Viral, Netizen Soroti Privilege dan Minta Maaf
Maudy Ayunda merespons kritik atas videonya soal mindfulness melalui kolom komentar YouTube.

BALI — Video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News itu sebenarnya sudah tayang di kanal YouTube Maudy Ayunda sejak 21 Agustus 2026. Belakangan, potongan dan isinya menyebar lagi di media sosial. Responsnya keras.

Netizen menuding pesan Maudy tone deaf. Mereka yang berada di daerah terdampak bencana, karhutla, hingga krisis BBM menilai saran mengurangi paparan berita buruk sebagai kemewahan yang tidak semua orang punya.

Isi Video yang Memicu Kritik

Dalam video tersebut, Maudy bercerita soal perasaan kewalahan menghadapi kabar buruk yang datang bertubi-tubi. Ia menyebut mengalami frustrasi, marah, hingga menangis.

Solusi yang ia bagikan: menerapkan mindfulness dan membatasi konsumsi berita negatif. Tujuannya agar seseorang tetap bisa mengikuti situasi tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Gagasan itu tidak diterima semua pihak. Bagi sebagian orang, berita buruk bukan informasi yang bisa ditinggalkan begitu saja. Bencana, kebakaran hutan dan lahan, persoalan ekonomi, hingga isu sosial berdampak langsung pada keluarga, pekerjaan, dan lingkungan mereka.

Respons Netizen di Berbagai Platform

Kritik mengalir di X, Threads, Instagram, hingga kolom komentar YouTube. Salah satu akun @AnakLolina2 menulis, "Maudy Ayunda ngajak orang buat rehat dari berita buruk yang terjadi, padahal di Kalimantan, Papua, Sumatera dan berbagai daerah lain ada yang sesak nafas karena kebakaran hutan."

Akun @atokdalangs4 menyoroti hal serupa dengan nada lebih tajam. "Jadi menurut Maudy Ayunda, bayi meninggal karena asap karhutla, siswa meninggal akibat keracunan MBG, sampai hutan yang rusak dan dibakar itu cuma sekadar 'berita yang mengganggu mindfulness'? Tone deaf level final boss sih, Sis!"

Ada pula yang menilai pesan itu hanya relevan untuk kelompok tertentu. "Harus diakui, ga appropriate di kondisi seperti ini. Ngajarin mindfulness saat teman2 di daerah terdampak kesulitan bernafas, kelangkaan air bersih, bbm ngantri smp berjam2," tulis @helloimshar.

Latar Pendidikan Maudy Ikut Disorot

Maudy diketahui menempuh Philosophy, Politics and Economics di University of Oxford dan melanjutkan pascasarjana di Stanford University. Sebagian netizen menilai latar itu seharusnya membuatnya lebih peka memberi konteks saat membicarakan persoalan sosial.

Kritik bukan semata soal isi video, melainkan soal siapa yang punya ruang untuk memilih berhenti membaca berita. Kemampuan itu dianggap sebagai privilege.

Permintaan Maaf Maudy Ayunda

Maudy merespons lewat komentar di video YouTube-nya. Ia mengakui ada aspek penting yang belum cukup direfleksikan.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tulis Maudy.

Ia menegaskan mindfulness yang dimaksud bukan berarti berhenti peduli. Tujuannya, kata Maudy, adalah mencari cara tetap peduli tanpa kehilangan kapasitas bertindak dan menjalani keseharian.

Maudy juga berterima kasih atas kritik yang masuk. Ia mengaku mendengarkan dan belajar dari respons publik.

Mengapa Konten Kesehatan Mental Mudah Salah Konteks

Kasus ini memperlihatkan bagaimana konten kesehatan mental bisa ditafsirkan berbeda ketika bertemu realitas sosial yang timpang. Video yang sudah tayang beberapa pekan bisa kembali viral setelah potongannya menyebar dan menjadi bahan diskusi baru.

Poin yang diakui Maudy sendiri: kemampuan menjauh dari berita adalah privilege yang tidak dimiliki semua orang. Pernyataan itu menutup perdebatan, sekaligus meninggalkan pertanyaan soal bagaimana konten mindfulness seharusnya dibingkai di tengah krisis yang berlangsung.

Follow lensabali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks