Sebanyak 108 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, terdampak pembatalan dan pergeseran jadwal akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Gubernur Bali Wayan Koster memastikan gangguan ini tidak memengaruhi jalur penerbangan internasional dari dan menuju Pulau Dewata.
DENPASAR — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap lalu lintas udara di Bali tercatat meluas hingga 108 penerbangan. Berdasarkan data Bandara I Gusti Ngurah Rai sejak Minggu (6/9) hingga siang ini, pembatalan dan pergeseran jam terbang terjadi khususnya pada rute yang menghubungkan Pulau Dewata dengan sejumlah titik di Pulau Jawa.
Meski begitu, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa konektivitas internasional tidak terusik. Hal itu ia sampaikan usai Sidang Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Senin.
"Kalau yang berkaitan dengan penerbangan internasional yang ke Bali, sama sekali tidak ada gangguan, tetap berjalan lancar jadi tidak ada masalah," ucap Koster.
Rute Domestik Terhenti Imbas Penutupan Bandara Soekarno-Hatta
Koster menjelaskan, kendala yang terjadi saat ini hanya melanda penerbangan domestik. Penyebab utamanya, sebagian besar pergerakan penumpang menuju Bali berasal dari Bandara Soekarno-Hatta yang ditutup sementara akibat abu vulkanik.
Penutupan tersebut membuat rute dari dan menuju Jakarta, serta penerbangan daerah lain yang terhubung dari ibu kota, terhenti. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan jumlah wisatawan domestik yang datang ke Bali.
"Kalau yang domestik tentu saja ini terganggu, kan penerbangan ke Bali ini paling banyak dari Jakarta. Kemarin itu praktis mengalami penurunan jauh karena situasi normal sekitar 12 sampai 16 ribu orang domestik per hari," kata dia.
Penanganan Penumpang Terdampak dan Potensi Pengalihan ke Darat
Di tengah kekacauan jadwal ini, Koster memastikan penanganan calon penumpang yang terdampak di Bali telah berjalan baik. Pengelola bandara dan maskapai disebut sigap memberikan solusi, termasuk pengembalian dana tiket.
"Sudah ditangani oleh pihak Angkasa Pura dan kemudian ada pengembalian dana tiket, dan penumpang sangat memahami situasi karena ini ada peristiwa alam, tidak bisa balik jadi menambah hari untuk menginap," ujarnya.
Soal potensi pengalihan arus penumpang ke transportasi darat, Pemprov Bali menemukan kendala berupa antrean di Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk. Namun, hal itu bukan disebabkan oleh penyeberangan dari sisi Gilimanuk di Bali, melainkan adanya proyek perluasan dermaga di Ketapang untuk persiapan mudik Lebaran 2027.
"Yang di Gilimanuk, itu saya sudah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan memang ada pekerjaan di Ketapang, sehingga tentu saja ada pekerjaan fisik ada gangguan rute pasti tapi sudah berkurang masih kira-kira 4-5 km," jelasnya.
Pariwisata Bali Diyakini Tetap Positif
Karena rute internasional tidak terganggu, Koster meyakini aktivitas vulkanik di Selat Sunda itu tidak berdampak ke sektor pariwisata. Ia menilai kunjungan mancanegara masih berada di tren positif.
Pemprov Bali berharap aktivitas erupsi dapat segera mereda. Dengan begitu, lalu lintas udara domestik bisa kembali pulih dan gelombang kedatangan wisatawan dari Jakarta berangsur normal.