GIANYAR — Made Kuter (63) masih setia menyusuri pematang sawahnya di tengah terik matahari. Tangan kanannya memegang sendok, tangan kirinya membawa dua bungkus plastik berisi racun tikus racikan tradisional dan daun pisang. Sudah beberapa tahun terakhir, petani Subak Padang Legi ini merasakan peningkatan hama yang signifikan, kesulitan air, dan kini ancaman banjir.
Lahan seluas 30 are yang digarapnya kian terhimpit bangunan vila. Racun tikus buatannya yang dicampur beras, kacang tanah, dan ikan asin ia letakkan di bawah semak-semak untuk mengelabui hama.
"Ini racun tikus, isinya beras, racun tikus, kacang tanah. Supaya berbau, biar mau dicium oleh tikus, biar dimakan sama tikus," kata Kuter saat menggarap lahannya, Rabu (29/7).
Serbuan Tikus di Tiga Periode Tanam
Sejak tahun lalu, serbuan tikus terjadi dalam tiga periode tanam. Satu petak sawahnya nyaris habis diserang hama, membuat padi menguning namun tidak bisa tumbuh maksimal.
"Tidak bisa dihitung banyaknya tikus," keluhnya sambil menggelengkan kepala.
Kuter juga mengeluhkan debit air yang kecil. Pembangunan di sekitarnya disebut menutup jalan air. "Misalnya ada yang membangun, terpaksa menembok kanan-kiri. Saluran air ditutup biar bisa dia kerja," ujarnya.
Banjir Pertama Kali Rendam Sawah
Ingatannya kembali pada 10 September 2025 lalu saat air sungai meluap. Hujan deras melanda sejumlah wilayah Bali semalaman, menjadikan Kabupaten Gianyar wilayah paling terdampak. Sawah Kuter pun terendam banjir untuk pertama kalinya.
"Keras banjirnya. Di sana ada sungai besar, airnya tidak surut-surut," jelasnya.
Tidak jauh dari lahan Kuter, Subak Selukat di Desa Keramas juga terdampak. Pura Selukat sempat tergenang air setinggi 3 meter. Ketut Sugata (73), Ketua Forum Pekaseh Agung Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan, mencatat banjir terjadi sejak 2015-2016, namun September tahun lalu menjadi yang terparah.
Daya Serap Air Berkurang Drastis
"Penyebabnya karena daya serap dan daya tampung air yang dulu masih ada, sekarang berkurang," kata Sugata.
Ironisnya, banjir terjadi di area yang berhimpitan dengan sawah—area yang seharusnya menjadi resapan air. Sugata mengibaratkan sawah sebagai tempat parkir air. Sebelum alih fungsi, sawah mampu menampung air setinggi 20-25 sentimeter.
Sawah Kuter dan Sugata masuk dalam wilayah DAS Pakerisan yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2012. Aliran sungai ini membentang dari Batur, Bangli, hingga bermuara di pantai selatan Gianyar.
Lahan Sawah Terbengkalai Akibat Proyek GOR
Di Desa Bakbakan, wilayah yang juga dilewati DAS Pakerisan, wacana pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) sejak 2023 membuat sejumlah lahan sawah warga tak bisa digarap. Agung, salah satu petani pemilik lahan seluas 14 hektar, bersama lima warga lainnya menolak pembangunan tersebut.
"Lahan kita saat ini bendera merah, artinya masih ada masalah. Belum diserahkan oleh pemilik. Jadi stop ditanam dari dua tahun lalu," kata Agung.
Padahal, lahannya biasa menghasilkan hingga 17 karung padi per musim panen. Sejak pembangunan GOR pada Mei 2026, mereka terdampak langsung saat hujan deras melanda. Status lahan yang belum jelas membuat para petani kehilangan mata pencaharian utama mereka.