DENPASAR — Sugihan Bali menjadi rangkaian krusial bagi umat Hindu sebelum merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Hari suci ini diperingati setiap 210 hari sekali, tepat sehari setelah Sugihan Jawa yang berfokus pada pembersihan alam semesta atau Bhuwana Agung.
Secara etimologi dalam bahasa Sansekerta, kata Sugi berarti membersihkan, sedangkan Bali berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Lontar Sundarigama menyebutkan istilah kalinggania amrestista raga tawulan, yang berarti menyucikan badan jasmani dan rohani dari segala noda serta perbuatan buruk. Pembersihan ini dilakukan secara sekala (nyata) dan niskala (spiritual).
Prosesi yang Dilakukan Umat Hindu Saat Sugihan Bali
Meskipun tidak ada upacara besar atau khusus yang mengikat, umat Hindu umumnya melakukan beberapa prosesi yang disesuaikan dengan konsep Desa, Kala, Patra (tempat, waktu, dan keadaan setempat). Ritual-ritual ini bertujuan untuk membersihkan diri dari ego dan kotoran batin.
Melukat menjadi salah satu prosesi utama. Umat Hindu memohon tirtha pangelukatan (air suci) kepada para Sulinggih (Pandita) atau Pemangku untuk melebur energi negatif. Ritual ini kerap dilakukan di sumber air suci atau pancuran alam, salah satunya dengan menggunakan sarana bungkak nyuh gading.
Selain pembersihan fisik, umat juga melakukan Mulat Sarira atau pengendalian diri. Proses introspeksi ini dilakukan melalui yoga semadi dan meditasi untuk menenangkan pikiran, mengheningkan jiwa, serta menahan diri dari segala godaan indria dan perilaku buruk.
Prosesi lainnya adalah persembahyangan dengan menghaturkan canang sari di Sanggah atau Merajan. Persembahan ini bertujuan memohon perlindungan dan kelancaran dalam menyambut Hari Raya Galungan.
Hubungan Sugihan Bali dengan Tri Hita Karana
Melalui ritual-ritual tersebut, umat Hindu diajak untuk membersihkan diri dari ego dan kotoran batin. Proses penyucian ini sekaligus menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta—yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana.
Dengan jiwa dan lingkungan yang bersih, kemenangan Dharma dalam Hari Raya Galungan pun dapat disambut dengan penuh kesucian dan kedamaian. Sugihan Bali menjadi fondasi penting bagi umat manusia untuk menciptakan keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.