BADUNG — Pelatihan yang berlangsung di sekolah tersebut dirancang interaktif dengan memadukan pemaparan teori, diskusi, dan praktik kelompok. Metode itu dipilih agar para peserta bisa langsung menghubungkan materi industri dengan pengalaman mengajar sehari-hari.
Dalam sesi praktik, guru diajak menyusun Business Model Canvas (BMC) sebagai peta perencanaan produk atau layanan TEFA. Ada empat poin utama yang dibahas dalam latihan itu.
Agung Mayuni menilai pengalaman para guru merupakan bekal berharga dalam merancang pembelajaran yang selaras dengan dunia kerja. Dengan kerangka BMC, gagasan pengembangan sekolah dapat disusun lebih terarah, sistematis, dan mudah dievaluasi.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi perspektif dari dunia industri sekaligus belajar dari pengalaman Bapak dan Ibu guru. Harapannya, praktik penyusunan BMC dapat membantu para guru mengembangkan pembelajaran TEFA yang sesuai dengan kompetensi siswa, kesiapan sekolah, dan kebutuhan pelanggan," ujar Agung Mayuni.
Suasana interaktif terlihat sepanjang sesi diskusi dan praktik kelompok. Para peserta menyampaikan gagasan kreatif, memetakan kebutuhan sumber daya, hingga mempresentasikan hasil rancangan pengembangan layanan di depan kelompok lain.
Kepala SMK PGRI 2 Badung, Drs. I Gusti Ketut Sukadana, M.Pd., menyambut baik inisiatif Astra Motor Bali. Ia menilai materi yang diberikan sangat aplikatif dan menunjang kebutuhan guru dalam menyusun modul pembelajaran.
"Materinya sangat baik dan relevan dengan modul yang akan disusun oleh para guru. Perpaduan teori dan praktik membantu peserta memahami materi sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah," ungkap Drs. I Gusti Ketut Sukadana, M.Pd.
Melalui semangat Sinergi Bagi Negeri, Astra Motor Bali berupaya memperkuat kolaborasi strategis antara dunia pendidikan dan industri. Pelatihan ini diharapkan membantu guru menghadirkan pembelajaran aplikatif bagi siswa SMK.
Bekal keterampilan yang kompeten sesuai standar dunia kerja menjadi target akhir dari rangkaian kegiatan CSR tersebut.