GIANYAR — Koordinator Balawista Gianyar Wayan Join Hermanto menyatakan korban sempat diimbau warga dan petugas untuk tidak masuk ke air. Imbauan itu tidak diindahkan, sehingga arus laut yang deras menyeret tubuh korban hingga tenggelam.
Laporan ke pos Balawista masuk sekitar pukul 18.20 Wita. Personel langsung dikerahkan ke titik kejadian, namun kondisi laut sedang tidak bersahabat.
Pantai Keramas telah dilengkapi papan larangan mandi sebelum insiden terjadi. Lokasi korban berenang berada di area yang dikenal memiliki arus balik (rip current) cukup kuat.
"Korban melukat di arus berbahaya, sudah ada yang mengimbau, namun korban tidak mau keluar dari air, sehingga korban terseret arus lalu tenggelam dan hilang," kata Wayan Join Hermanto, Minggu (1/11) malam.
Korban tercatat sebagai laki-laki berusia 19 tahun dengan alamat Kabupaten Karangasem. Hingga laporan terakhir, keberadaannya belum ditemukan.
Hujan dan angin kencang memaksa tim Balawista menarik anggotanya dari lokasi pada Minggu malam. Keputusan itu diambil demi keselamatan personel di lapangan.
Operasi pencarian dijadwalkan berlanjut Senin (2/11) mulai pukul 06.30 Wita. Anggota akan menyisir perairan hingga pukul 17.00 Wita jika kondisi cuaca memungkinkan.
"Tadi karena hujan dan angin kencang kami tarik anggota balik kanan. Besok pukul 06.30 Wita anggota sudah di TKP melakukan pencarian sampai pukul 17.00 Wita," ujarnya.
Garis pantai Gianyar dari Keramas hingga Lebih dikenal memiliki arus bawah yang kuat. Karakter ombak di kawasan ini menarik banyak peselancar, tetapi berisiko tinggi bagi perenang biasa.
Insiden Yuda menambah daftar panjang korban hilang akibat terseret arus di pesisir Gianyar. Balawista setempat berulang kali mengingatkan pengunjung agar tidak mandi di area tanpa pengawasan.
Warga yang melihat orang berenang di zona berbahaya diminta segera melapor ke pos Balawista terdekat. Kecepatan laporan menentukan peluang korban ditemukan selamat.