Yayasan BASAibu Wiki Bali mengumpulkan lebih dari 50 perwakilan instansi pemerintah, kampus, dan praktisi kesehatan untuk menguji 629 karya pemuda dalam Dialog Kebijakan Ngirangin Malanjaran di Balai Bahasa Provinsi Bali. Forum yang bergulir sejak kompetisi daring 23 Juli-7 Agustus 2026 itu diarahkan agar gagasan pelajar dan mahasiswa tidak berhenti sebagai lomba, melainkan disusun menjadi rekomendasi kebijakan publik menekan kebiasaan merokok di daerah.
DENPASAR — Langkah ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Konferensi Pemuda Bali 2025 yang menempatkan kesehatan generasi muda sebagai prioritas pembangunan daerah. Tema Ngirangin Malanjaran, yang berarti mengurangi kebiasaan merokok, sengaja dipilih untuk menjawab persoalan yang paling dekat dengan usia remaja.
Sejumlah keresahan yang mengemuka dari 629 karya peserta mencakup maraknya penjualan rokok ketengan murah yang menyasar pelajar, tren rokok elektrik atau vape, serta persepsi sosial yang keliru menganggap merokok sebagai simbol kedewasaan. Para peserta juga menyoroti lemahnya penegakan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok di tingkat komunitas banjar.
Karya-karya itu berasal dari pelajar SMA, SMK, mahasiswa, hingga pemuda umum di seluruh Bali. Mereka yang menjadi finalis kemudian dipertemukan langsung dengan para pemangku kebijakan lintas sektor dalam forum tatap muka.
Dialog menghadirkan delegasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung dan Badung, Dinas PMA Provinsi Bali, Bappeda Kota Denpasar, serta sejumlah institusi pendidikan seperti ITEKES Bintang Persada, Universitas Dhyana Pura, dan Universitas Udayana. Forum Genre Bali, PSSKM FK Unud, Duta Kesehatan, dan HMKM FK Unud juga turut ambil bagian.
Finalis Wikithon berasal dari SMAN Bali Mandara, SMAN 1 Seririt, SMAN 1 Sukasada, SMKN 3 Denpasar, SMKN 8 Kintamani, SMAN 1 Baturiti, SMAN 11 Denpasar, hingga SMAN 2 Denpasar beserta guru pendamping. Mereka duduk setara dengan para pejabat dan akademisi untuk membedah gagasan lewat sembilan instrumen penajaman kebijakan.
Sesi inti menggunakan metode rotasi pos diskusi kelompok terarah yang dipandu Yowana Abhinaya, alumni Konferensi Pemuda Bali, sebagai fasilitator. Pada pos diskusi pertama yang difasilitasi Elsa Matori, peserta membedah gagasan berjudul Sisya Luih Nenten Malanjaran karya I Putu Restu Adi Nugraha.
Diskusi berfokus pada bagaimana menekan akses rokok di lingkungan pendidikan. Kelompok menelaah identifikasi aksi nyata, peran pemuda, mitra strategis, linimasa, lokus kegiatan, mekanisme koordinasi birokrasi, sampai tolok ukur keberhasilan dan monitoring program.
Program and Engagement Director BASAibu Wiki Bali, Ni Putu Ayu Suaningsih, mengatakan forum ini menjunjung asas kesetaraan penuh. Seluruh peserta duduk berdampingan dan saling menyapa dengan panggilan “teman-teman” untuk mencairkan sekat birokrasi.
Cara itu membuat masukan dari pejabat maupun sanggahan dari pelajar dapat mengalir terbuka tanpa rasa canggung. Suasana forum juga dijaga konsisten dengan tema acara: seluruh area kegiatan bebas asap rokok dan tidak memperbolehkan botol plastik sekali pakai.
Pada pembukaan acara, Yayasan BASAibu Wiki dan Udayana Central menandatangani perjanjian kerja sama. Kesepakatan diwakili oleh Dr. dr. I Ketut Suarjana, M.PH., untuk memperkuat penelitian partisipasi publik, advokasi regulasi tembakau, dan pendampingan ilmiah terhadap program aksi generasi muda ke depan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan BASAibu Wiki, Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum., menilai ajang Wikithon membuktikan pemuda memiliki kepekaan kritis yang tajam terhadap isu kesehatan lingkungan. Ia menyebut ide-ide inovatif peserta dapat mendorong kebijakan pemerintah daerah ketika dipadukan dengan data dan kajian teknis dinas terkait menjadi draf risalah kebijakan atau policy brief yang komprehensif.