DENPASAR — Karya Atiwa-Tiwa yang digelar Desa Adat Kesiman setiap lima tahun sekali ini tercatat melibatkan ratusan peserta dalam berbagai rangkaian upacara Pitra Yadnya. Prosesi ngaben diikuti 34 sawa, 127 ngelangkir, dan 22 ngelungah, sementara Atma Wedana Maligia Punggel diikuti 297 sawa.
Selain upacara untuk leluhur, karya kali ini juga dirangkaikan dengan upacara metatah yang diikuti 332 peserta. Seluruh rangkaian ini berlangsung di Setra Desa Adat Kesiman dengan pengawasan prajuru desa setempat.
Di sela-sela prosesi, Jaya Negara menyampaikan apresiasi kepada Desa Adat Kesiman yang konsisten melaksanakan upacara secara kolektif. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar pelestarian adat, tetapi juga mencerminkan kepedulian desa adat dalam membantu meringankan beban krama.
"Pelaksanaan Karya Atiwa-Tiwa ini merupakan bentuk tanggung jawab desa adat dalam membantu dan meringankan beban krama. Terlebih, upacara ini rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, sehingga diharapkan dapat memberikan kemudahan dan kebermanfaatan bagi krama dalam melaksanakan upacara," ujar Jaya Negara.
Kegiatan itu turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar I Wayan Warka, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, serta jajaran Dinas Kebudayaan dan Manggala Majelis Desa Adat (MDA). Para penglingsir puri di wilayah Kesiman juga tampak hadir mengikuti prosesi hingga penyerahan punia.
Jro Bendesa Adat Kesiman I Ketut Wisna menjelaskan, rangkaian acara diawali prosesi ngaben pada 3 September, kemudian dilanjutkan Atma Wedana mulai 6 September. Prosesi Mesasab di Segara Padang Galak akan dilakukan secara kolektif dan diikuti 508 peserta.
"Seluruh rangkaian Karya Atiwa-Tiwa ini diharapkan dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Pihak panitia bersama prajuru Desa Adat Kesiman juga berharap pelaksanaan karya dapat berjalan labda karya serta memberikan kerahayuan bagi seluruh krama dan umat yang terlibat," kata Wisna.
Setelah Mesasab, puncak Atma Wedana Maligia Punggel dijadwalkan berlangsung pada 1 Oktober 2026. Prosesi ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian Karya Atiwa-Tiwa yang berlangsung di Desa Adat Kesiman.