BALI — Pergerakan rupiah pekan ini nyaris datar, hanya menguat tipis 0,01% secara mingguan. Kondisi ini mencerminkan kebuntuan pasar di tengah dua kekuatan yang saling tarik: tekanan eksternal dari penguatan indeks dolar AS dan sentimen positif dari fundamental domestik.
Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga bergerak senada, menguat tipis ke Rp17.703 per dolar AS dibandingkan posisi pekan sebelumnya di Rp17.705 per dolar AS.
"Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi," tulis Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu (28/8/2026).
Dari sisi eksternal, pasar juga menanti sinyal terbaru dari bank sentral AS. Keputusan The Fed terkait suku bunga akan sangat menentukan pergerakan dolar global, yang secara langsung berdampak pada nilai tukar rupiah.
Namun, ada secercah harapan di tengah ketidakpastian ini. Jika laju inflasi domestik menunjukkan angka yang terkendali, ruang untuk pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia akan semakin terbuka.
Hal ini bisa menjadi angin segar bagi rupiah, karena memberikan sinyal stabilitas ekonomi di tengah gejolak global. Investor pun akan menilai bahwa tekanan inflasi yang rendah memberi ruang bagi BI untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa harus menaikkan suku bunga secara agresif.
Pasar kini memasuki fase krusial, di mana setiap data ekonomi yang dirilis akan langsung tercermin pada pergerakan rupiah. Keputusan BI dan The Fed dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan mata uang Garuda.