JEMBRANA — Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar akhirnya mulai menyentuh tanah Bali. Groundbreaking PLTS 100 GWp Site Gilimanuk yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Kecamatan Melaya menjadi penanda dimulainya transisi energi yang sudah dirancang sejak enam tahun lalu.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, arah kebijakan menuju kemandirian energi berbasis energi bersih sebenarnya sudah tertuang dalam Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019. Namun, implementasinya sempat tertahan karena pandemi Covid-19 melanda.
"Program ini sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2019 lalu, namun belum berjalan optimal karena situasi saat itu kurang kondusif akibat pandemi COVID-19," kata Koster di sela-sela acara groundbreaking.
Koster menegaskan salah satu pekerjaan rumah utama pemda adalah menyiapkan lahan. Pemprov Bali akan mengupayakan pemanfaatan lahan milik negara yang selama ini tidak produktif untuk mendukung pembangunan infrastruktur energi terbarukan tersebut.
Menurut Koster, kebutuhan energi Bali terus meningkat seiring denyut sektor pariwisata yang menjadi mesin ekonomi daerah. Pasokan listrik yang andal dan bersih menjadi prasyarat mutlak, bukan lagi sekadar pelengkap.
Koster menilai penggunaan energi bersih dapat menjadi bagian dari daya saing pariwisata Bali. Sebagai destinasi wisata kelas dunia, ekosistem yang ditopang energi ramah lingkungan akan semakin memperkuat daya tarik Pulau Dewata.
"Manfaat PLTS ini tidak saja untuk memenuhi kebutuhan energi, tapi juga meningkatkan citra pariwisata Bali," ujarnya.
Untuk tahap awal, Bali mendapat alokasi pengembangan PLTS sebesar 1.000 GWp. Angka ini menjadi bagian dari program nasional PLTS 100 GWp yang dicanangkan pemerintah pusat.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut pengembangan PLTS akan mengubah karakter sistem kelistrikan Bali secara fundamental. Ketergantungan pada BBM impor bakal tergerus perlahan dan digantikan sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
"Dari energi mahal menjadi energi yang murah, dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan," kata Darmawan.
Ia menambahkan, pengembangan energi hijau ini sejalan dengan konsep Bali Mandiri Energi dan Bali Energi Bersih yang digagas Pemprov Bali. Namun Darmawan mengakui, percepatan pembangunan PLTS membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah, dengan ketersediaan lahan sebagai faktor penentu.
"Karena salah satu kunci dari program PLTS ini adalah penyediaan lahan," ujarnya.
Dalam peninjauan di lokasi, Presiden Prabowo didampingi Koster, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Darmawan Prasodjo, serta jajaran pemerintah daerah Jembrana.