BALI — Kabar baik datang dari blok migas Rokan. Sumur SA-3 yang dibor menggunakan Rig ECI#2 berkekuatan 1.000 HP sejak 7 Mei 2026 itu sukses menembus kedalaman akhir 6.440 kaki. Namun, kejutan terbesar justru datang dari hasil uji alirnya yang jauh melampaui ekspektasi awal.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, dari interval perforasi 6.063–6.072 kaki di Formasi Talang Akar, sumur ini menyemburkan minyak dengan laju 2.467 BOPD. Angka ini disertai produksi gas sebesar 1,28 MMSCFD.
“Hasil pengujian menunjukkan kinerja sumur yang sangat baik dengan laju alir dengan bean choke 128/64 sebesar 2.467 BOPD,” ujar Djoko dalam keterangan resminya, Jumat (7/8).
Fakta menarik lainnya, kadar air atau BS&W tercatat 0 persen. Artinya, fluida yang keluar dari perut bumi adalah minyak murni tanpa campuran air, sebuah indikator kualitas reservoir yang prima. Temuan ini sekaligus menjawab keraguan akan potensi sumur yang awalnya ditargetkan hanya menghasilkan 500 barel per hari.
Pencapaian impresif ini tak membuat operator berpuas diri. PT Sele Raya Belida langsung menyiapkan langkah lanjutan agar minyak segera mengalir ke pasar. Sumur SA-3 dijadwalkan onstream pada Agustus 2026 ini juga.
Kendati jalur pipa permanen belum beroperasi, produksi tidak akan ditahan. SKK Migas memastikan penyaluran awal akan memakai metode trucking—mengangkut minyak menggunakan truk tangki—sebagai solusi sementara yang efektif.
“Dengan selesainya kegiatan production test serta rencana percepatan onstream, Sumur Sungai Anggur-3 diharapkan segera memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional,” tegas Djoko.
Lonjakan produksi dari sumur SA-3 ini bukan sekadar kabar baik internal perusahaan. Di tengah tekanan penurunan produksi alami sumur-sumur tua, temuan sumur dengan laju alir tinggi seperti ini menjadi penopang utama capaian target minyak nasional yang dicanangkan pemerintah.
Keberhasilan ini juga membuktikan bahwa aktivitas eksplorasi dan pengembangan di wilayah kerja yang sudah berproduksi masih menyimpan potensi besar. Dengan tambahan produksi signifikan dari SA-3, kontribusi blok Rokan terhadap penerimaan negara dipastikan ikut menguat.
Langkah PT Sele Raya Belida yang responsif dengan skema trucking patut menjadi catatan. Alih-alih menunggu infrastruktur permanen rampung, percepatan aliran kas dan produksi menjadi prioritas, sebuah pendekatan pragmatis yang dibutuhkan industri hulu migas saat ini.