Surya Metu Festival III Resmi Dibuka, Bupati Klungkung Tegaskan Nusa Penida Menuju Green Island

Penulis: Eri Subagio  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:33:31 WIB
Bupati Klungkung I Made Satria melepas tukik sebagai tanda pembukaan Surya Metu Festival III di Pesisir Pantai Tanjung Kerambitan, Nusa Penida, Kamis (6/8/2026).

KLUNGKUNG — Surya Metu Festival Volume III resmi bergulir di Pesisir Pantai Tanjung Kerambitan, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Nusa Penida, Kamis (6/8/2026). Ajang tahunan yang berlangsung hingga 9 Agustus ini bukan sekadar panggung hiburan. Festival ini menjadi medium kampanye pelestarian ekosistem laut.

Pembukaan ditandai pelepasan tukik dan penanaman terumbu karang yang dipimpin langsung Bupati Klungkung I Made Satria. Aksi simbolis ini menegaskan komitmen pemerintah daerah menjaga keseimbangan alam di kawasan yang tengah diarahkan menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan.

Ruang Kolaborasi Ekonomi, Seni, dan Adat

Bupati Satria menegaskan festival ini dirancang sebagai wadah merawat kearifan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Menurutnya, kekayaan alam dan spiritual Nusa Penida adalah modal utama pembangunan yang wajib dijaga bersama.

"Jadi Surya Metu Festival ini bukan hanya sekedar festival saja, tetapi wadah untuk menjaga, melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal budaya dan seni yang merupakan kekuatan kita di Bali," ujar Bupati Satria dalam sambutannya.

Ia mendorong generasi muda menjadikan festival ini ruang berkarya dan berinovasi. Keterlibatan anak muda menjadi kunci agar tradisi tetap hidup dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Mengapa Tema Perlindungan Laut Diangkat?

Tema "Sagara Raksha" selaras dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Secara spesifik, kebijakan ini mendukung target Pemerintah Kabupaten Klungkung menjadikan Kepulauan Nusa Penida sebagai Green Island.

"Mari bersama-sama mulai dari generasi muda jadikan festival ini sebagai ajang promosi pariwisata kita di Nusa Penida," harap Bupati Satria.

Bendesa Adat Dalem Setra Batununggul, I Dewa Ketut Anom Astika, menjelaskan festival ini merupakan wujud kolaborasi lintas elemen. Desa adat, komunitas seni, pegiat lingkungan, pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri pariwisata terlibat dalam perhelatan tersebut.

Agenda Lengkap: Baleganjur, Ogoh-Ogoh, Hingga Konservasi

Selama empat hari, pengunjung dapat menyaksikan beragam kegiatan yang menggabungkan unsur tradisi dan konservasi. Beberapa agenda utama yang dijadwalkan antara lain:

  • Lomba Baleganjur Ngarap Sebali dan lomba gebogan sebagai atraksi budaya khas Bali.
  • Lomba tapel ogoh-ogoh yang menampilkan kreativitas seniman lokal.
  • Pameran dan pemberdayaan pelaku UMKM setempat untuk menggerakkan ekonomi warga.
  • Penanaman terumbu karang serta pelepasan tukik sebagai aksi nyata pelestarian lingkungan.

"Melalui pelaksanaan festival ini merupakan wujud nyata wajah pariwisata Bali khususnya di Nusa Penida yang diharapkan memberikan pengalaman, membangun kesadaran, dan menghadirkan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," kata Anom Astika.

Festival ini diharapkan membuktikan bahwa pariwisata dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak mengorbankan warisan alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama Nusa Penida bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Reporter: Eri Subagio
Sumber: updatebali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top