BALI — Memasuki minggu pertama Juli, pengguna kendaraan bermesin diesel dan bensin beroktan tinggi bisa sedikit bernapas lega. Pertamina resmi memangkas harga tiga produk unggulannya, membuat pengeluaran harian di SPBU lebih ringan dibanding bulan sebelumnya. Namun, potongan harga ini tidak merata di seluruh Indonesia—faktor pajak daerah dan ongkos logistik masih bikin selisih antarwilayah cukup terasa.
Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, harga Pertamax Turbo (RON 98) kini dipatok Rp 19.300 per liter. Dexlite (CN 51) turun ke Rp 19.700, sementara Pertamina Dex (CN 53) dibanderol Rp 21.150. Angka ini kompak lebih rendah dibandingkan harga di luar Jawa yang masih berkutat di kisaran Rp 19.750 hingga Rp 20.150 untuk Pertamax Turbo.
Sebagai catatan, harga Pertalite (RON 90) masih bertahan di Rp 10.000 per liter dan Biosolar Subsidi di Rp 6.800. Kedua produk ini tidak mengalami perubahan sejak awal tahun.
Perbedaan harga paling mencolok terlihat di zona FTZ. Di Batam, Pertamax Turbo cuma Rp 18.350 per liter—jauh lebih murah ketimbang Sumatera Barat yang menyentuh Rp 20.150. Pengguna diesel di FTZ Sabang juga diuntungkan dengan Dexlite Rp 18.450, sementara di Kalimantan Selatan dan Utara harga produk yang sama mencapai Rp 20.550.
Berikut rincian harga di sejumlah wilayah utama:
Pertamina menetapkan harga berbeda di tiap wilayah karena beberapa variabel. Biaya distribusi ke daerah terpencil, besaran pajak daerah, serta kebijakan khusus di kawasan Free Trade Zone (FTZ) seperti Sabang dan Batam menjadi penyebab utama. Misalnya, harga Pertamax di FTZ Sabang hanya Rp 15.250, sementara di Aceh non-FTZ mencapai Rp 16.650.
Bagi pemilik kendaraan diesel yang biasa mengisi Pertamina Dex, selisih harga antarwilayah bisa mencapai Rp 2.000 per liter. Pilihan paling murah ada di FTZ Batam (Rp 20.100), sedangkan termahal di Sumatera Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan (Rp 22.100).