BALI — KFA angkat bicara untuk pertama kalinya secara resmi pasca kegagalan Korea di Piala Dunia 2026. Melalui pernyataan yang dirilis Jumat (3/7), federasi menunduk dan meminta maaf kepada seluruh penggemar sepak bola Korea.
"Kami dengan tulus meminta maaf karena telah mengecewakan Anda dengan hasil yang jauh dari harapan di Piala Dunia 2026," bunyi pernyataan KFA yang dikutip dari Instagram resmi federasi.
KFA menegaskan kegagalan ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Federasi berjanji menjadikan hasil buruk di Piala Dunia sebagai pelajaran mahal untuk membangun fondasi yang lebih kuat.
"Kami akan mengambil kegagalan ini sebagai pelajaran dan mempersiapkan masa depan sepak bola Korea dengan cara yang baru melalui refleksi mendalam dan introspeksi diri," tulis KFA dalam pernyataan resminya.
Federasi juga membantah berbagai laporan spekulatif yang beredar dalam beberapa pekan terakhir. Menurut KFA, sejumlah informasi yang tidak terverifikasi itu sepenuhnya salah dan tidak mencerminkan fakta di lapangan.
Di tengah permintaan maaf, KFA memberikan update konkret soal masa depan tim nasional. Komite terkait telah menggelar rapat pada 3 Juli dan mencapai kesepakatan untuk meninjau berbagai opsi calon pelatih kepala baru.
Sementara itu, Komite Urusan Umum akan melanjutkan pembahasan agar persiapan tim nasional tidak terganggu. Targetnya, jadwal pertandingan paruh kedua Liga A tetap berjalan normal dan tim siap menghadapi Piala Asia.
Soal kepemimpinan federasi, KFA buka suara. Anggaran Dasar Asosiasi mengatur pemilihan presiden harus digelar dalam waktu 60 hari sejak jabatan kosong. Namun, KFA menyatakan proses itu harus selaras dengan Anggaran Dasar FIFA dan Komite Olimpiade Korea.
KFA masih melakukan pembahasan dan musyawarah internal sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Belum ada tenggat waktu pasti kapan pemilihan presiden akan digelar.
"Sekali lagi, kami menundukkan kepala untuk meminta maaf karena telah menimbulkan kekhawatiran. Kami berjanji akan terus berupaya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan kemurnian yang melekat pada olahraga ini," tutup KFA.