DENPASAR — Gelombang aksi mahasiswa yang melanda sejumlah daerah di Indonesia akhirnya mencapai Bali. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bali turun ke jalan pada hari ini untuk menyuarakan keresahan terhadap situasi ekonomi dan sosial yang mereka nilai kian memburuk.
Dalam orasinya, para demonstran menyoroti setidaknya tiga persoalan nasional yang menurut mereka berdampak langsung pada masyarakat. Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh, baik dari segi pelaksanaan maupun anggaran.
Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dikhawatirkan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Ketiga, penolakan tegas terhadap pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Polri yang dianggap mengancam independensi lembaga kepolisian.
Aliansi BEM Se-Bali menilai bahwa kebijakan pemerintah pusat dalam beberapa bulan terakhir belum mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Mereka menyebut bahwa evaluasi terhadap program MBG harus dilakukan karena belum ada data konkret soal efektivitasnya di lapangan.
“Kami mendesak pemerintah untuk mengevaluasi program MBG yang dinilai masih bermasalah, serta menolak RUU Polri yang dapat mengembalikan Polri ke masa lalu yang otoriter,” ujar salah satu koordinator lapangan dalam aksi tersebut.
Aksi yang berlangsung sejak pagi hari ini menyasar beberapa titik keramaian di Kota Denpasar dan sekitarnya. Para mahasiswa berjalan kaki sambil membawa spanduk dan meneriakkan yel-yel, sementara aparat kepolisian melakukan pengamanan di sepanjang rute yang dilalui.
Hingga berita ini diturunkan, aksi berlangsung tertib dan belum ada laporan mengenai gesekan antara peserta unjuk rasa dengan aparat keamanan. Pihak kepolisian setempat memastikan akan mengawal jalannya aksi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Para mahasiswa berjanji akan terus mengawal ketiga isu tersebut hingga ada respons nyata dari pemerintah pusat. Mereka juga mengancam akan memperluas aksi jika tuntutan mereka tidak diindahkan dalam waktu dekat.
Aksi serupa sebelumnya telah terjadi di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, menjadikan Bali sebagai salah satu titik terakhir dari rangkaian gelombang protes mahasiswa di Indonesia.