SIMAKDIALOG Kritik Festival Jazz Kehilangan Jati Diri, Kurator Dinilai Tak Berani Beri Ruang bagi Musisi Murni

Penulis: Feri Andika  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:31:01 WIB
Personel SIMAKDIALOG mengkritik festival jazz yang minim menampilkan musisi jazz sejati di panggung utama.

BALI — Kritik tajam disampaikan personel SIMAKDIALOG dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu. Mereka menyoroti fenomena festival berlabel jazz yang justru minim menampilkan musisi jazz sejati di panggung utama. Menurut mereka, praktik ini telah mengaburkan identitas dan sejarah musik jazz itu sendiri.

Distorsi Identitas dan Sejarah Musik Jazz

Pianis SIMAKDIALOG, Sri Hanuraga, menegaskan persoalan ini bukan sekadar soal genre. Ia menyebut praktik tersebut telah menghancurkan dan mendistorsi musik jazz.

“Jazz itu musik yang punya sejarah berawal dari akar rumput atau musik perjuangan. Tapi lalu dia diapropriasi, namanya terus didistorsi dan orang mungkin nggak mengenal lagi apa itu jazz, itu kan jahat banget sebenarnya,” ujar musisi yang akrab disapa Aga itu.

Senada dengan Aga, pemain bass Jason Mountario menyoroti lemahnya kompetensi kurator. Ia heran ketika keputusan kurasi festival justru dibuat oleh pihak yang tidak memahami jazz secara mendalam.

“Kadang yang nyebelin itu dia nggak ngerti jazz tapi nggak mau masukin jazz-nya. Kalau kurator ngerti jazz, pendapatnya masih bisa didengar. Tapi kalau nggak ngerti musik, beropini seakan-akan penting, jadi aneh,” ungkap Jason.

Mengapa Penyelenggara Bertahan dengan Label Jazz?

Pemain kendang dan gong Cucu Kurnia mempertanyakan kegigihan penyelenggara mempertahankan label jazz. Menurutnya, jika konten festival sudah jauh dari genre tersebut, seharusnya mereka berani melepas label itu.

“Kalau saya mungkin lebih melihat kenapa gitu nggak berani keluar dari kata jazz itu sih sebenarnya,” tutur Cucu.

Pendapat itu diamini vokalis Dinar Rizkianti. Ia menegaskan festival jazz semestinya tetap memberikan ruang utama bagi musisi jazz. Jika ingin menggabungkan genre lain, Dinar menyarankan agar tidak perlu menambahkan embel-embel jazz pada nama festival.

“Kalau mau festival jazz ya hadirkanlah musisi jazz yang sebenarnya. Mungkin kalau mau di-combine dengan genre lain ya tidak perlu memberikan imbuhan jazz di belakangnya,” ujar Dinar.

Kritik Indra Lesmana: Festival Kehilangan Jiwa

Kegelisahan serupa sebelumnya juga disuarakan musisi jazz senior Indra Lesmana. Melalui unggahan di media sosial pada 9 Juli 2025, ia mengkritik arah perkembangan festival jazz yang dinilainya mulai kehilangan ruhnya.

“Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz. Tanpa jazz, festival jazz kehilangan jiwanya,” tulis Indra di akun Instagram @indralesmana.

Indra menekankan festival jazz seharusnya menjadi ruang bagi seniman untuk berkembang, bukan sekadar mengejar angka penjualan tiket. “Kita butuh festival yang berani, festival yang memberi ruang bagi seniman untuk bernapas, dan memberi kesempatan bagi penonton untuk merasakan sesuatu yang lebih mendalam,” tutupnya.

Kurator Harus Merawat Ekosistem, Bukan Sekadar Memilih Nama

Menurut Sri Hanuraga, persoalan ini berakar pada peran kurator yang keliru. Ia mengingatkan makna kurasi adalah merawat sesuatu, bukan sekadar memilih nama populer untuk mengisi panggung.

“Pekerjaan kurator harus kembali ke hakikatnya, 'to curate' untuk merawat sesuatu. Dia harus bisa merawat ekosistemnya, mempunyai bayangan ekosistem ini mau dibangun seperti apa. Ini perlu visi yang jelas dan pemahaman akan sejarah musik yang lebih besar lagi,” jelas Aga.

Jason menambahkan, penempatan peran di panggung utama kerap terbalik. Ia mempertanyakan mengapa musisi jazz tidak ditempatkan di main stage, sementara band lintas genre justru menjadi bintang utama.

“Gue selalu mempertanyakan kenapa di main stage justru bukan the rockstar of jazz-nya yang tampil. Kalau mau cross-genre oke lah, tapi jangan dibolak-balik perannya. Harus tetap ada respect,” tegas Jason.

Reporter: Feri Andika
Sumber: medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top