KARANGASEM — Dua ekor sapi hilang dalam sepekan terakhir di dua desa berbeda di Kecamatan Abang membuat para peternak meningkatkan kewaspadaan. Aksi pencurian ini dinilai bukan kejadian biasa lantaran pelaku disebut sudah memetakan lokasi kandang yang sepi dan jauh dari pemukiman.
Peristiwa pertama terjadi di Banjar Dinas Lebah, Desa Abang, pada Kamis malam pekan lalu. Seekor sapi dewasa raib saat pemilik tengah tertidur. Dua hari kemudian, giliran satu sapi di Banjar Dinas Pempatan, Desa Tri Buana, dilaporkan hilang dengan kondisi kandang ditemukan sudah rusak.
“Kandangnya digembok dari luar pakai kunci baru. Sapi dibawa lewat jalur belakang yang tidak terlihat dari jalan,” ujar salah seorang peternak yang enggan disebut namanya, kepada awak media, Senin (14/4).
Kapolres Karangasem AKBP I Nengah Sadiarta memastikan penyelidikan telah menemukan titik terang. Pihaknya mengantongi ciri-ciri pelaku berdasarkan keterangan saksi dan rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian.
“Kami sudah mengidentifikasi orang yang diduga kuat sebagai pelaku. Saat ini masih dalam pengejaran,” kata Sadiarta dalam keterangan singkat, Selasa (15/4).
Polisi juga telah memeriksa tiga orang saksi dan mengamankan sejumlah barang bukti berupa potongan tali dan bekas jejak kaki di sekitar kandang.
Kekhawatiran menyebar cepat di kalangan peternak di Abang. Beberapa warga mulai bergiliran menjaga kandang pada malam hari, sementara yang lain memilih memindahkan ternak ke kandang yang lebih dekat dengan rumah.
“Satu ekor sapi dewasa harganya bisa Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Kalau hilang dua ekor, rugi besar,” ujar Wayan, peternak di Desa Abang.
Kasus pencurian ternak di Karangasem memang kerap terjadi secara musiman. Namun, aksi dua kali dalam waktu berdekatan di satu kecamatan dinilai tidak biasa. Polres Karangasem mengimbau warga segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan di sekitar kandang ternak.
Kapolres menambahkan pihaknya akan memperketat patroli di kawasan perkebunan dan perbukitan yang menjadi jalur alternatif pelaku. “Kami juga koordinasi dengan pecalang dan perangkat desa untuk membentuk sistem keamanan lingkungan,” pungkasnya.