Labdanation Fashion Week Season III di Denpasar Pamerkan 67 Busana Tekstil Berkelanjutan, Kejar Rekor Guinness World Records

Penulis: Haris Maulana  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:47:31 WIB
Peragaan busana Labdanation Fashion Week Season III digelar di panggung terbuka Sira Village, Denpasar, Bali.

DENPASAR — Panggung terbuka Sira Village menjadi lokasi rangkaian acara yang berlangsung sekitar lima jam, mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WITA. Selain peragaan busana, acara dibuka dengan talk show bertajuk "Perkembangan Industri Tekstil Nasional Menuju Pasar Global yang Berintegritas dan Beretika dalam Menciptakan Pelaku Bisnis yang Berstandar Internasional".

Diskusi tersebut menghadirkan Wijaya Ng dari PT Labda Anugerah Tekstil, Hagung Eko Prayoko selaku Kepala Balai Besar Tekstil, Baari La Inggi selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Pipit Fitriyani Hayati selaku General Manager TESTEX, serta Benjamin Bambang Juwono selaku Managing Director PT Arfia Megah.

Lima Desainer dan Institusi Kreatif yang Terlibat

Rancangan busana yang ditampilkan berasal dari Morrato Bali, Kimmyra, Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali, Unice, dan Novel Mice. Seluruh desain telah memiliki hak cipta atas nama masing-masing desainer.

Para model lokal membawakan karya tersebut di atas catwalk dengan latar aktivitas laut dan hamparan rumput hijau. Lengkungan panggung terbuat dari anyaman kayu dan rotan, memperkuat konsep ramah lingkungan yang diusung acara.

Bahan Katun dan Rayon Bersertifikasi Internasional

Direktur Operasional PT Labda Anugerah Tekstil Wijaya Ng menyatakan seluruh busana menggunakan bahan yang memenuhi standar sertifikasi internasional. Serat alam yang dipakai adalah katun dan rayon.

"Peragaan ini dirancang untuk memecahkan rekor dunia sebagai peragaan busana tekstil berkelanjutan bersertifikasi pertama dan terbesar," kata Wijaya Ng.

Menurut Wijaya, keberlanjutan tidak cukup dilihat dari material yang digunakan. Proses produksi, dampak lingkungan, kondisi sosial, serta keberlangsungan ekonomi juga menjadi bagian dari konsep yang diterapkan.

UMKM dan Mahasiswa Jadi Prioritas Pengembangan

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan industri tekstil berkelanjutan. Wijaya juga menyoroti keterlibatan IDB Bali dalam menyiapkan generasi muda yang mampu memenuhi standar internasional.

Mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan desain, tetapi juga pemahaman mengenai standar produksi, sertifikasi, dan tuntutan pasar global. "Kami ingin mahasiswa setelah lulus menjadi pelaku bisnis berstandar internasional," ujarnya.

Mengapa Bali Dipilih sebagai Lokasi

Wijaya memandang Bali sebagai etalase Indonesia yang dikenal masyarakat internasional. Menurutnya, lokasi tersebut strategis untuk memperkenalkan kemampuan industri tekstil nasional dalam menerapkan praktik berkelanjutan.

Wijaya juga menyampaikan apresiasi kepada pengelola Sira Village yang telah menyediakan lokasi kegiatan. Aspek keberlanjutan dinilai sejalan dengan konsep acara yang mengangkat tema "Threads of Legacy: The Grand Collaborative Certified Sustainable Textile Fashion Show—A Historic Journey Towards the Guinness World Records".

Reporter: Haris Maulana
Sumber: tatkala.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top