DENPASAR — Giri Prasta menuturkan, dirinya turut mendampingi Koster dalam pertemuan awal dengan pihak Pertamina. Dalam pertemuan itu, Pertamina menyampaikan bahwa stok BBM dalam kondisi aman.
Kondisi di lapangan ternyata jauh dari penjelasan tersebut. Kelangkaan BBM tetap terjadi dan membuat antrean panjang di sejumlah SPBU.
Giri menyebut informasi stok aman yang disampaikan Pertamina membuat Gubernur Koster seperti terkena prank. Ia menegaskan, kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan data yang diterima pemerintah provinsi.
"Pak Gubernur juga menyampaikan hal gitu, akhirnya di-prank. Gubernur kita di-prank pada saat itu. Ternyata tidak seperti itu. Maka, rutinitas jadi dilakukan oleh Pak Gubernur," ujar Giri.
Pernyataan itu muncul di tengah sorotan publik terhadap peran Giri selama krisis BBM. Ia memilih menjelaskan duduk perkara pembagian tugas dengan Koster.
Menurut mantan Bupati Badung tersebut, pembagian tugas dengan Koster dilakukan agar penanganan persoalan pemerintahan berjalan efektif. Koster memilih memantau langsung kondisi di lapangan.
Giri tetap menjalankan tugas sesuai pembagian peran yang telah disepakati. Pembagian itu disebutnya sebagai langkah agar pelayanan pemerintahan tidak terganggu saat krisis energi berlangsung.
Giri juga menyoroti pentingnya transparansi data pasokan energi dari PT Pertamina Patra Niaga. Ia meminta pemerintah memperoleh informasi menyeluruh mengenai ketersediaan solar, BBM, dan elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram.
Permintaan itu dinilai penting agar pemerintah daerah bisa mengambil keputusan cepat ketika pasokan di lapangan mulai menipis. Data yang terbuka juga disebutnya bisa mencegah kepanikan warga.
Hingga pernyataan itu disampaikan, belum ada keterangan resmi dari Pertamina Patra Niaga soal tuduhan informasi stok yang tidak akurat tersebut.