Rupiah Melemah 0,24% ke Rp 18.123, Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sejak Juli

Penulis: Feri Andika  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 14:23:01 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 0,24% ke Rp 18.123 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026).

BALI — Nilai tukar rupiah melemah 0,24% ke level Rp 18.123 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026), dan terus tertekan ke Rp 18.129 hingga pukul 13.42 WIB. Posisi ini mendekati rekor terendah sepanjang masa Rp 18.279 yang tercatat pada Juli 2026, menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pada 29 Oktober 2026.

Data Bloomberg menunjukkan dolar AS menguat sejak pembukaan perdagangan pagi di level Rp 18.080 atau naik 0,11%. Sementara itu, RTI Business mencatat penguatan 0,25% ke Rp 18.112 pada pukul 13.32 WIB. Sepanjang tahun 2026, dolar AS sudah menguat 8,60% terhadap rupiah.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Dolar AS juga bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang utama lain, dengan EUR naik 0,14%, JPY 0,06%, dan CAD 0,06%.

Posisi Rupiah Masih Jauh dari Rekor Terendah Juli 2026

Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat rupiah saat ini mendekati level terendah sepanjang masa. Pada Juli 2026, dolar AS sempat menyentuh Rp 18.279. Artinya, level Rp 18.129 masih sekitar 150 poin di bawah rekor tersebut, tetapi arah pergerakan dalam beberapa pekan terakhir konsisten melemah.

BRI Danareksa menyebut tekanan terhadap rupiah perlu diwaspadai menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 29 Oktober 2026. Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, tekanan inflasi, dan potensi penguatan dolar AS berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal asing.

Tiga Jalur Tekanan ke IHSG dan Emiten Berutang Dolar

Pelemahan rupiah berpotensi menekan IHSG melalui tiga jalur. Risiko arus modal keluar menjadi yang paling langsung, disusul kenaikan biaya impor, dan bertambahnya beban perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.

"Bagi pasar domestik, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap IHSG melalui risiko capital outflow, kenaikan biaya impor, dan meningkatnya beban perusahaan dengan utang berdenominasi dolar AS. Investor perlu mencermati pergerakan USD/IDR dan respons pasar terhadap keputusan The Fed," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin (26/10/2026).

Siapa Paling Terpapar Pelemahan Kurs

Emiten dengan porsi utang dolar besar menjadi kelompok paling rentan. Beban bunga dan kewajiban pokok dalam rupiah otomatis membengkak saat kurs naik, memangkas laba bersih meski pendapatan operasional tidak berubah.

Di sisi lain, emiten berorientasi ekspor seperti produsen komoditas dan pengolah sumber daya alam justru mendapat angin segar. Pendapatan dalam dolar AS mereka konversinya naik, sehingga margin bisa melebar bila biaya produksi tetap dalam rupiah.

Importir bahan baku menghadapi tekanan ganda: harga beli naik dan biaya pendanaan bertambah. Sektor yang bergantung pada komponen impor, termasuk manufaktur dan consumer goods, perlu mencermati dampaknya ke margin kuartal IV 2026.

Yang Perlu Dicermati Investor Sebelum 29 Oktober

Pasar obligasi juga perlu dipantau. Pelemahan rupiah yang berlanjut biasanya diikuti kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), karena investor asing meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset rupiah.

Riset BRI Danareksa menekankan pentingnya memantau pergerakan USD/IDR dan respons pasar terhadap keputusan The Fed. Bila bank sentral AS menahan suku bunga atau memberi sinyal hawkish, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut ke sesi-sesi berikutnya.

Bagi investor ritel, posisi kas dan eksposur valas menjadi pertimbangan utama. Saham dengan utang dolar tinggi layak dikaji ulang, sementara emiten eksportir bisa menjadi alternatif lindung nilai alami terhadap pelemahan kurs.

Reporter: Feri Andika
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top